Pada 15–16 Oktober 2026, saya menjadi narasumber Focus Group Discussion "Implementasi SAK EP dan Perhitungan CKPN" bagi BPR Syariah se-Sumatera Barat di Grand Rocky Hotel Bukittinggi, yang diselenggarakan PT Mitrasoft Global Perdana bersama HIMBARSI Sumatera Barat. Hari kedua sepenuhnya kami pakai untuk workshop perhitungan CKPN dengan kertas kerja.
Pertanyaan yang paling sering muncul dari peserta bukan lagi "apa itu PSAK 414", melainkan "bagaimana cara menghitungnya?". Karena itu, tulisan ini saya fokuskan pada metode perhitungan CKPN yang dibahas di workshop, lengkap dengan contoh angkanya. Rujukan utamanya adalah PSAK 414 dan materi Pedoman CKPN BPR Syariah dalam Rancangan Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia (PAPSI) bagi BPR Syariah dari OJK, yang nantinya akan mencabut SEOJK Nomor 9/SEOJK.03/2015. PSAK 414 berlaku efektif 1 Januari 2027, jadi BPRS perlu mulai mencoba menghitung dari sekarang.
Gambaran Umum: Individual atau Kolektif?
Sebelum masuk ke rumus, ada tiga hal dasar yang perlu dipahami:
- Level evaluasi ditentukan oleh ambang signifikansi. Aset yang nilainya sama atau di atas jumlah signifikan dievaluasi secara individual; di bawahnya dievaluasi secara kolektif. Ambang ditetapkan sendiri oleh BPRS dalam kebijakannya, misalnya plafon di atas Rp1 miliar atau 25 nasabah terbesar.
- CKPN hanya dibentuk bila ada bukti objektif penurunan nilai. Berbeda dengan BPR konvensional, bila tidak ada bukti objektif, BPRS tidak mengakui kerugian penurunan nilai dan tidak membentuk CKPN.
- Tanpa nilai waktu atas uang. PSAK 414 tidak mendiskontokan arus kas. Inilah pembeda utama dari model penurunan nilai konvensional.
Langkah sebelum menghitung: pengelompokan, signifikansi, dan aset baik
Menurut materi Pedoman CKPN BPR Syariah, perhitungan baru dilakukan pada tahap keenam dari enam tahap evaluasi. Tiga tahap sebelumnya sangat menentukan hasil hitungan:
- Aset baik tidak dihitung. Penempatan pada bank lain yang dijamin penuh LPS tidak dibentuk CKPN. Untuk penempatan yang melebihi penjaminan LPS, BPRS menghitung berdasarkan data historis kerugian penempatan; bila data historisnya tidak ada, BPRS dapat tidak membentuk CKPN. Surat berharga yang diterbitkan Pemerintah Indonesia dibentuk CKPN nihil. Sementara itu, aset tanpa tunggakan lebih dari 7 hari dan tidak pernah direstrukturisasi tidak otomatis bebas CKPN: BPRS tetap menilai ada tidaknya bukti objektif dan data historis kerugiannya.
- Pengelompokan berdasarkan kesamaan risiko kredit. Dasarnya bisa per jenis akad (murabahah, istishna, ijarah, qardh, dan seterusnya) atau per kelompok akad (jual beli, bagi hasil, pinjam-meminjam, sewa-menyewa, lainnya). Kelompok ini dapat dipecah lagi menjadi sub-kelompok, misalnya per jenis penggunaan (modal kerja, investasi, konsumtif) atau per kantor cabang. Kriteria lain yang boleh dipakai antara lain peringkat risiko, jenis agunan, sisa jatuh tempo, industri, lokasi geografis, dan rasio finance-to-value. Setiap sub-kelompok kolektif memerlukan PD, LGD, dan EAD sendiri.
- Signifikansi dinilai setelah pengelompokan. Pada BPRS, signifikansi dinilai per akad atau per rekening, bukan per debitur seperti di BPR konvensional, kecuali BPRS menetapkan beberapa fasilitas sebagai satu kesatuan risiko (misalnya dijamin agunan yang sama). Ambang signifikansi harus mempertimbangkan materialitas dan kapasitas evaluasi individual, agar tidak terlalu banyak aset dievaluasi individual yang justru menimbulkan bias.
Satu catatan penting dari pedoman: untuk aset yang dinilai secara individual, BPRS mungkin menemukan indikasi penurunan nilai; sedangkan untuk aset yang dinilai secara kolektif, BPRS kemungkinan besar menemukan indikasi penurunan nilai, misalnya dari tren tunggakan pada kelompok aset serupa. Karena itu, perhitungan kolektif dengan PD × LGD × EAD tetap menjadi bagian terbesar pekerjaan CKPN di BPRS.
Metode 1: Perhitungan Individual
Untuk aset yang signifikan, CKPN dihitung dari selisih antara arus kas neto yang seharusnya diterima sesuai akad dan arus kas neto yang diperkirakan diterima. Arus kas neto yang diperkirakan diterima dapat berasal dari dua sumber:
- Penjualan agunan (collateral shortfall) — bila pemulihan diperkirakan melalui eksekusi agunan. Nilai agunan yang dipakai adalah nilai likuidasi (nilai jual cepat) yang dapat dieksekusi, dikurangi biaya pelepasan, bukan nilai pasar.
- Pembayaran angsuran berdasarkan kesepakatan restrukturisasi — bila nasabah masih memiliki kemampuan membayar dan pembiayaannya direstrukturisasi. Arus kas yang diperkirakan diterima adalah jumlah angsuran sesuai jadwal restrukturisasi yang realistis dapat dibayar nasabah.
Karena PSAK 414 tidak menggunakan nilai waktu atas uang, arus kas dari kedua sumber tersebut tidak didiskontokan; yang dibandingkan adalah jumlah nominalnya.
Contoh A: arus kas dari penjualan agunan
Per 31 Desember 20x1, piutang murabahah Rp4 miliar dengan margin ditangguhkan Rp1 miliar. Agunan bernilai pasar Rp3,3 miliar, nilai likuidasi Rp2,5 miliar, dan biaya pelepasan Rp200 juta.
| Arus kas neto yang seharusnya diterima (Rp4 miliar – Rp1 miliar) | Rp3.000.000.000 |
| Nilai likuidasi agunan | Rp2.500.000.000 |
| Dikurangi: biaya pelepasan agunan | (Rp200.000.000) |
| Arus kas neto yang diperkirakan diterima | Rp2.300.000.000 |
| CKPN individual | Rp700.000.000 |
Jurnalnya: Db. Beban CKPN – Kr. CKPN sebesar Rp700 juta. Jika periode berikutnya nilai agunan membaik karena penilaian ulang, CKPN dipulihkan dengan jurnal Db. CKPN, dengan pasangan kredit pilihan BPRS: Kr. Beban CKPN (sebagai pengurang beban), atau Kr. Pendapatan operasional lainnya – Pemulihan CKPN. Perlu diingat, evaluasi individual tidak semata formula: tetap dibutuhkan pertimbangan pembiayaan (experienced financing judgement) atas kinerja keuangan, kemampuan bayar, legalitas agunan, dan prospek usaha nasabah.
Penyampaian materi teknik perhitungan CKPN individual dan kolektif.
Metode 2: Perhitungan Kolektif dengan PD × LGD × EAD
Untuk aset yang tidak signifikan, CKPN dihitung per kelompok aset yang memiliki kesamaan risiko kredit, menggunakan rumus:
CKPN = PD × LGD × EAD
- PD (Probability of Default) — kemungkinan nasabah gagal memenuhi kewajiban.
- LGD (Loss Given Default) — besarnya kerugian bila nasabah gagal bayar.
- EAD (Exposure at Default) — tagihan kepada nasabah pada tanggal penilaian; tidak memerlukan metode khusus.
BPRS wajib memiliki data kerugian historis minimal tiga tahun. Setiap kelompok aset memerlukan set PD dan LGD sendiri. Misalnya, bila piutang murabahah dikelompokkan menjadi modal kerja, konsumtif, dan investasi, maka dibentuk tiga PD dan tiga LGD. Bila data belum memadai dalam kondisi tertentu (misalnya ganti core banking, BPRS baru berdiri, atau masuk sektor baru), BPRS dapat memakai data peer group sampai BPRS memiliki data historis sendiri minimal dua tahun periode bisnis normal.
Menghitung PD dengan Metode Net Flow (Roll Rate)
Metode ini melihat perpindahan saldo dari satu bucket hari tunggakan ke bucket yang lebih buruk, dari bulan ke bulan. Definisi gagal bayar: tunggakan lebih dari 360 hari dan telah dihapusbukukan.
- Siapkan data. Saldo outstanding bulanan per bucket hari tunggakan (dalam ilustrasi workshop: 14 bucket × 13 bulan) dan data hapus buku per bulan. Bila satu angsuran masuk bucket tertentu, seluruh pokok masuk bucket tersebut.
- Hitung persentase perpindahan (flow rate) dari setiap bucket ke bucket berikutnya untuk setiap bulan.
- Hitung compound flow to loss, yaitu perkalian berantai seluruh flow rate dari bucket tersebut sampai bucket kerugian.
- Hitung PD = MIN(100%; rata-rata compound flow to loss seluruh bulan).
Hasil ilustrasi: PD bucket 1 sebesar 0,20%, bucket 2 sebesar 10,52%, bucket 4 sebesar 20,51%, bucket 10 sebesar 56,05%, sampai bucket 14 sebesar 100%. Uji kewajaran data: tidak boleh ada bucket bernilai nol, dan saldo bucket tujuan tidak boleh melebihi saldo bucket asalnya.
Menghitung PD dengan Metode Migration Analysis
Metode ini melacak rekening berdasarkan kualitas aset (1 sampai 5) pada suatu posisi, lalu melihat posisinya satu tahun kemudian: tetap, pindah kualitas, dihapusbuku, atau lunas. Definisi gagal bayar: hapus buku.
- Ambil saldo per kualitas pada posisi triwulanan (31 Maret, 30 Juni, 30 September, 31 Desember).
- Lacak (tracing) setiap rekening selama satu tahun berikutnya.
- Hitung persentase migrasi dan porsi yang berakhir dihapusbuku; itulah PD per posisi.
- Rata-ratakan PD dari empat posisi triwulanan, baik rata-rata sederhana maupun rata-rata tertimbang saldo.
Hasil ilustrasi (rata-rata sederhana): kualitas 1 = 2,44%, kualitas 2 = 18,74%, kualitas 3 = 47,48%, kualitas 4 = 61,54%, dan kualitas 5 = 84,00%.
Menghitung LGD dengan Metode Expected Recoveries
LGD dihitung dari sisi pemulihan, yaitu penerimaan kembali atas aset yang sudah dihapusbuku, baik tunai maupun dari penjualan agunan, dengan data lima tahun ke belakang.
Contoh: total hapus buku Rp1.929.083.114, total recovery selama empat tahun Rp594.040.131. Recovery rate = 30,79%, sehingga LGD = 1 – 30,79% = 69,21%.
Menghitung LGD dengan Metode Collateral Shortfall
LGD dihitung dari sisi agunan, yaitu selisih antara tagihan yang belum dilunasi dan hasil eksekusi agunan setelah biaya pelepasan.
Contoh: dari enam rekening yang agunannya dieksekusi, total tagihan belum lunas Rp1.600.800.000 dan total kekurangan (shortfall) Rp461.300.000. Maka LGD = 461.300.000 ÷ 1.600.800.000 = 28,82%. Catatan penting: kelebihan hasil eksekusi pada satu rekening tidak boleh menutup kekurangan rekening lain, dan agunan yang belum dieksekusi harus dinilai wajar, tidak terlalu tinggi maupun terlalu rendah. LGD juga dapat dihitung sebagai rata-rata tertimbang kedua metode.
Satu Portofolio, Empat Hasil Berbeda
Bagian paling menarik di workshop adalah ketika peserta menghitung CKPN atas portofolio yang sama (EAD lancar sekitar Rp90,8 miliar) dengan empat kombinasi metode. Hasilnya:
| Kombinasi PD × LGD | CKPN kolektif | Total CKPN* |
|---|---|---|
| Net Flow × Expected Recoveries (69,21%) | 1.469,56 | 2.169,56 |
| Net Flow × Collateral Shortfall (28,82%) | 611,91 | 1.311,91 |
| Migration × Expected Recoveries (69,21%) | 3.390,97 | 4.090,97 |
| Migration × Collateral Shortfall (28,82%) | 1.411,97 | 2.111,97 |
Dalam Rp juta. *Termasuk CKPN individual Rp700 juta. Angka ilustrasi, bukan data bank tertentu.
Rentangnya Rp1,31 miliar sampai Rp4,09 miliar, atau sekitar 3,1 kali lipat. Ada dua penyebab utama:
- Pilihan metode PD. PD kualitas 1 pada migration analysis (2,44%) jauh di atas PD bucket 1 pada net flow (0,20%), padahal keduanya dikenakan pada eksposur lancar yang sama besar. Karena eksposur lancar mencakup lebih dari 90% portofolio, selisih kecil pada PD ini langsung membesar. Pada kombinasi migration × expected recoveries, kualitas 1 saja menyumbang Rp1,53 miliar dari total CKPN kolektif Rp3,39 miliar.
- Pilihan metode LGD. Dengan PD yang sama, mengganti LGD dari 69,21% ke 28,82% menurunkan CKPN kolektif sekitar 58%.
Pesannya: metode PD dan LGD bukan pilihan teknis yang netral terhadap laba. Pemilihan metode harus ditetapkan dalam kebijakan dan SOP CKPN secara tertulis, didukung ketersediaan data serta analisis biaya-manfaat, dan diterapkan konsisten antarperiode. Dampak perbedaan CKPN lama dan CKPN sesuai PSAK 414 nantinya diakui langsung pada saldo laba 1 Januari 2027, sehingga BPRS sebaiknya sudah melakukan perhitungan uji coba sepanjang sisa tahun ini.
Terima kasih kepada PT Mitrasoft Global Perdana, HIMBARSI Sumatera Barat, dan seluruh peserta dari BPRS se-Sumatera Barat atas diskusi yang hidup selama dua hari.
Butuh Pendampingan Implementasi CKPN PSAK 414?
Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa hasil CKPN sangat bergantung pada kebijakan yang dipilih dan kualitas data lembaga sendiri. Bagi BPRS maupun KSPPS/BMT yang menerapkan SAK EP, G-Consulting (PT Growup Consulting Indonesia) membuka layanan Jasa Konsultasi Pendampingan Implementasi CKPN PSAK 414 untuk BPRS dan KSPPS/BMT, yang meliputi:
- Penyusunan SOP CKPN — kebijakan dan prosedur tertulis sesuai PSAK 414: ruang lingkup aset, kriteria bukti objektif, ambang signifikansi, pengelompokan akad, pemilihan metode PD dan LGD beserta alasannya, penilaian agunan, pembentukan dan pemulihan CKPN, jurnal, serta dokumentasi.
- Perhitungan tarif CKPN — pengolahan data historis lembaga untuk menghitung PD (Net Flow atau Migration Analysis) dan LGD (Expected Recoveries atau Collateral Shortfall) per kelompok akad, dengan kertas kerja Excel yang formulanya dapat ditelusuri, simulasi perbandingan metode, simulasi dampak transisi ke saldo laba, dan perbandingan dengan PPKA.
- Training perhitungan CKPN - Training perhitungan CKPN dapat dilaksanakan secara inhouse training oleh 1 BPRS/KSPPS atau bersifat workshop gabungan beberapa BPRS/KSPPS.
Pendampingan dapat dilakukan secara daring maupun langsung di lokasi, disesuaikan dengan kondisi data dan sistem yang dimiliki lembaga Anda. Mari siapkan penerapan PSAK 414 lebih awal agar tidak ada kejutan pada laporan keuangan 2027.
Catatan: Tulisan ini merupakan ringkasan materi workshop dengan angka ilustrasi. Pedoman CKPN BPR Syariah yang dikutip masih berupa rancangan PAPSI BPR Syariah. Rujukan yang mengikat tetap teks final PSAK 414 pada SAK Online dan ketentuan OJK yang berlaku.












