Daftar Lengkap 66 Jenis Akad Syariah

GUSTANI.ID - Akad merupakan kesepakatan tertulis antara dua pihak yang memuat hak dan kewajiban yang menimbilkan hukum. Akad menjadi salah satu hal yang mendasar dalam transaksi ekonomi. Perbedaan antara transaksi pada lembaga keuangan konvensional dan syariah terletak pada akad. Akad berbeda pun akan melahirkan hukum yang berbeda. 

Saya sedang memberikan materi Teori Akad Syariah ke Calon Karyawan BMT


Contoh, akad kredit pada bank konvensional adalah pinjaman (qardh), sehingga dilarang adanya tambahan, sedang akad pembiayaan pada bank syariah adalah jual-beli murabahah, sehingga dibolehkan untuk mengambil keuntungan.

Saya pribadi memandang teori akad merupakan materi pokok yang mesti dipahami oleh penggiat ekonomi syariah dan pembisnis. Mengingat seluruh aktivitas ekonomi kita tidak terlepas dari akad. Pemahaman akad akan menghindarkan kita dari hal-hal yang terlarang dalam transaksi.

Dalam teori akad Syariah dikenal begitu banyak jenis akad pada transaksi ekonomi, baik yang bersifat bisnis maupun non bisnis. Jenis akad tersebut dibagi kedalam empat rumpun utama yaitu :

  1. Rumpun Akad Jual-Beli (Bai'), yang terdiri dari 21 jenis akad.
  2. Rumpun Akad Sewa - Menyewa (Ijarah) terdiri dari 10 akad
  3. Rumpun Akad Kerjasama (Syirkah) terdiri dari 13 akad
  4. Rumpun Akad Kebajikan (Tabarru') terdiri terdiri 22 jenis akad

Berikut ini adalah 66 jenis akad syariah yang coba saya himpun dari berbagai referensi, seperti Fatwa DSN-MUI, Regulasi, dan Buku Fikih Muamalah Maliyah karya Prof Jaih Mubarok. Sebagian akad sudah diterapkan pada produk-produk keuangan syariah di Indonesia. Mungkin masih banyak jenis akad lainnya yang belum masuk kedalam daftar ini, mengingat kajian kajian akad dalam fikih muamalah sangat luas. Wallahua'lam.


NO JENIS AKAD DEFINISI
A RUMPUN AKAD JUAL - BELI
1 Bai' / Jual - Beli Akad Jual Beli adalah akad   antara penjual (al-Ba'l') dan pembeli (al-Musytari) yang mengakibatkan   berpindahnya kepemilikan obyek yang dipertukarkan (barang/mabi'/mutsman) dan   harga [tsaman)).
2 Bai' Al Musawamah (Tawar   Menawar) Bai' al-musawamah adalah jual   beli dengan harga yang disepakati melalui proses tawar-menawar dan ra'sul   mal-nya (harga perolehan ditambah biaya-biaya yang diperkenankan) tidak wajib   disampaikan oleh penjual kepada pembeli. Bai' almusawamafr sering disebut   dengan jual beli biasa (Bai' al-'adiyy)
3 Bai' Al Muzayadah (Lelang) Bai' al-muzayadah adalah jual   beli dengan harga paling tinggi yang penentuan harga (tsaman) tersebut   dilakukan melalui proses tawar menawar
4 Bai' Al Munaqashah (Tender) Bai' al-munaqashah adalah jual   beli dengan harga paling rendah yang penentuan harga (tsaman) tersebut   dilakukan melalui proses tawar menawar
5 Bai' Al Muaqayadhah Jual-beli barter antar barang   dengan barang
6 Bai' Muthlaqah Jual-beli pertukaran barang   dengan uang
7 Bai' Sharf Jual-beli pertukaran uang dengan   uang
8 Bai' Al Hal (Tunai) Al-Bai' al-hal - terkadang   disebut juga dengan al-bai' al-mu'ajjal/naqdan adalah jual beli yang   pembayaran harganya dilakukan secara tunai
9 Bai' Al Mu'ajjal (Tangguh) Al-Bai' al-mu'ajjal adalah jual   beli yang pembayaran harganya dilakukan secara tangguh.
10 Bai' bi Al Taqsith (Angsuran) Al-Bai' bi al-taqsith adalah   jual beli yang pembayaran harganya dilakukan secara angsur/bertahap.
11 Bai Al Amanah Bai' al-amanah adalah jual beli   yang ro'sul mal-nya wajib disampaikan oleh penjual kepada pembeli.
12 Bai' Tauliyah Transaksi antara penjual dan   pembeli atas barang, dimana penjual menjual barang tertentu kepada pembeli   sesuai dengan harga perolehan.
13 Bai' Al Wadhi'ah Transaksi antara penjual dan   pembeli , dimana penjual mengalami kerugian, yaitu penjual menjual barang   kepada pembeli dengan harga yang lebih rendah dibanding harga perolehan.
14 Bai' al-murabahah Bai' al-murabahah adalah jual   beli suatu barang dengan menegaskan harga belinya kepada pembeli dan pembeli   membayarnya dengan hargayang lebih sebagai laba.
15 Bai' Al Salam Bai' al-salam adalah jual beli   dalam bentuk pemesanan atas suatu barang dengan kriteria tertentu yang   harganya wajib dibayar tunai pada saat akad.
16 Bai' al-istishna' Bai' al-istishna' adalah jual   beli dalam bentuk pemesanan pembuatan suatu barang dengan kriteria tertentu   yang pembayaran harganya berdasarkan kesepakatan antara pemesan   (pembeli/mustashni') dan penjual (pembuat/shani')
17 Bai' Fudhuli Jual-beli atas barang yang   dilakukan oleh pihak yang tidak memiliki kewenangan atau seseorang menjual   barang tertentu atas nama orang lain tanpa izin dari pemiliknya.
18 Bai’ al-wafa Bai’ al-wafa’/jual beli dengan   hak membeli kembali adalah jualbeli yang dilangsungkan dengan syarat bahwa   barang yang dijual tersebut dapat dibeli kembali oleh penjual apabila   tenggang waktu yang disepakati telah tiba
19 Bai' Juzaf (Borongan) Penjualan suatu barang tanpa   diketahui takarannya, timbangannya, dan bilangan atau jumlahnya, tetapi   diketahui dengan cara dikira-kira dan ditaksir setelah objeknya disaksikan   atau dilihat oleh penjual dan pembeli.
20 Bai' Inah Jual-beli tunai dengan syarat   pembeli harus menjual kembali barang kepada penjual dengan harga lebih tinggi   secara angsuran.
21 Ba' Tawarruq Jual-beli secara tangguh   kemudian pembeli menjual kembali kepada pihak lain secara tunai.
B RUMPUN AKAD SEWA - MENYEWA
22 Ijarah Ijarah adalah akad sewa antara   mu'jir dengan mustaTir atau antara musta'jir dengan ajir untuk mempertukarkan   manfa'ah dan ujrah, baik manfaat barang maupun jasa
23 Ijarah 'ala al a'yan Ijarah 'ala al-a'yan adalah akad   sewa atas manfaat barang.
24 Ijarah 'ala al-asykhash Ijarah 'ala al-asykhash/ijarah   'ala al-a'mal adalah akad sewa atas jasa/pekerjaan orang.
25 Ij'arah Muntahiyyah Bi altamlik   (IMBT) Ij'arah muntahiyyah bi altamlik   (IMBT) adalah akad ijarah atas manfaat barang yang disertai dengan janji   pemindahan hak milik atas barang sewa kepada penyewa, setelah selesai atau   diakhirinya akad ijarah.
26 Ijarah Maushufah Fi al-Dzimmah   (IMFD) Ijarah maushufah fi al-dzimmah   (IMFD) adalah akad ijarah atas manfaat suatu barang (manfaat 'ain) danlatau   jasa ('amal) yang pada saat akad hanya disebutkan sifat-sifat dan   spesifikasinya (kuantitas dan kualitas).
27 Ijarah Tasyghili,yah Ijarah tasyghili,yah adalah akad   ijarah atas manfaat barang yang tidak disertai dengan janji pemindahan hak   milik atas barang sewa kepada penyewa.
28 Al Bai' wal Isti'jar (Ijarah   Sale and Lease Back) Jual-beli suatu aset yang   kemudian pembeli menyewakan aset tersebut kepada penjual.
29 Ijarah Al Muwazi (Ulang   Sewa/Sewa Paralel) Perjanjian sewa atas suatu   barang dalam rangka disewakan lagi kepada pihak lain.
30 Ijarah Jasa Ijarah atas manfaat dari jasa
31 Ju’alah Ju’alah adalah janji atau   komitmen (iltizam) untuk memberikan imbalan (reward/’iwadh//ju’l) tertentu   atas pencapaian hasil (natijah) yang ditentukan dari suatu pekerjaan
C RUMPUN AKAD KERJA SAMA
32 Syirkah/Musyarakah Akad syirkah adalah akad kerja   sama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu di mana setiap   pihak memberikan kontribusi dana/modal usaha (ra's al-mal) dengan ketentuan   bahwa keuntungan dibagi sesuai nisbah yang disepakati atau secara proporsional,   sedangkan kerugian ditanggung oleh para pihak secara proporsional. Syirkah   ini merupakan salah satu bentuk Syirkah amwal dan dikenal dengan nama syirkah   inan.
33 Syirkah amwal Syirkah amwal adalah syirkah   yang ra's al-mal-nya berupa harta kekayaan dalam bentuk uang atau barang.
34 Syirkah 'abdan/syirkah a'maL Syirkah 'abdan/syirkah a'mal   adalah syirkah yang ra's al-mal-nya bukan berupa harta kekayaan namun dalam   bentuk keahlian atau keterampilan usaha/kerja, termasuk komitmen untuk   menunaikan kewajiban syirkah kepada pihak lain berdasarkan kesepakatan atau   proporsional.
35 Syirknh wujuh Syirknh wujuh adalah syirkah   yang ra's al-mal-nya bukan berupa harta kekayaan (dliri-&) nu*un dalam   bentuk reputasi atau nama baik salah satu atau seluruh syarik, termasuk   komitmen untuk menunaikan kewajiban syirkah kepada pihak lain berdasarkan   kesepakatan atau proporsional
36 Syirkah da'imah atau syirkah   tsabitah Syirkah da'imah atau syirkah   tsabitah adalah syirkah yang kepemilikan porsi ra's al-mal setiap syarik   tidak mengalami perubahan sejak akad syirkah dimulai sampai dengan   berakhirnya akad syirkah, baik jangka waktunya dibatasi (syirkah mu'aqqatah)   maupun tidak dibatasi.
37 Musyarakoh mutanaqishah Musyarakoh mutanaqishah adalah   syirkah yang kepemilikan porsi ra's al-mal salah satu syarik berkurang   disebabkan pembelian secara bertahap oleh syarik lainnya
38 Mudharabah Akad mudharabqh adalah akad   kerja sama suatu usaha arrtara pemilik modal (malildshahib al-ma[) yang   menyediakan seluruh modal dengan pengelola ('amil/mudharib) dan keuntungan   usaha dibagi di antara mereka sesuai nisbah yang disepakati dalam akad
39 Mudharab ah-muqayyadah Mudharab ah-muqayyadah adalah   akad mudharabah yang dibatasi jenis usaha, jangka waktu (waktu), dan/atau   tempat usaha.
40 Mudharabah-muthlaqah Mudharabah-muthlaqah adalah akad   mudharabah yang tidak dibatasi jenis usaha, jangka waktu (waktu), dan/atau   tempat usaha.
41 Mudharabah-tsuna'iyah Mudharabah-tsuna'iyah adalah   akad mudhorabah yang dilakukan secara langsung antara shahib al-mal dan   mudharib.
42 Mudharabah-musytarakah Mudharabah-musytarakah adalah   akad mudharabah yang pengelolanya (mudharib) ikut menyertakan modalnya dalam   kerja sama usaha
43 Muzaraah Muzaraah adalah kerjasama antara   pemilik lahan dengan penggarap untuk memanfaatkan lahan.
44 Musaqah Musaqah adalah kerjasama antara   pihak-pihak dalam pemeliharaan tanaman dengan pembagian hasil antara pemilik   dengan pemelihara tanaman dengan nisbah yang disepakati oleh pihak-pihak yang   terikat.
D RUMPUN AKAD TABARRU'
45 Wadi'ah Wadi 'ah (titipan) adalah akad   titipan sesuatu yang diberikan oleh satu pihak kepada pihak lain untuk dijaga   dan dikembalikan ketika diminta kembali;
46 Wakalah Akad wakalah adalah akad   pemberian kuasa dari muwakkil kepada wakil untuk melakukan perbuatan hukum   tertentu.
47 Wakalah bil Ujroh Akad wakalah bi al-ujrah adalah   akad wakalah yang disertai dengan imbalan berupa ujrah (.fee).
48 Wakalah bi al-Istitsmar Wakalah bi al-Istitsmar adalah   akad wakalah untuk menginvestasikan dan mengembangkan modal Muwakkil baik   dengan imbalan (Wakalah bi al-Ujrah) maupun tanpa imbalan (Wakalah bi ghairi   alUjrah).
49 Kafalah Kafalah adalah akad penjaminan   yang diberikan oleh penanggung (kafil) kepada pihak ketiga untuk memenuhi   kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung (makfuul ‘anhu, ashil)
50 Kafalah bil Ujroh Akad kafalah yang disertai   dengan imbalan berupa ujroh
51 Hawalah Hawalah adalah pengalihan utang   dari satu pihak ke pihak lain, terdiri atas hawalah muqayyadah dan hawalah   muthlaqah.
52 Hawalah muqayyadah Hawalah muqayyadah adalah   hawalah di mana muhil adalah orang yang berutang sekaligus berpiutang kepada   muhal ’alaih sebagaimana dimaksud dalam Fatwa No.12/DSN-MUI/IV/2000 tentang   Hawalah.
53 Hawalah muthlaqah Hawalah muthlaqah adalah hawalah   di mana muhil adalah orang yang berutang tetapi tidak berpiutang kepada muhal   ’alaih;
54 Hawalah bil ujrah Hawalah bil ujrah adalah hawalah   dengan pengenaan ujrah/fee
55 Rahn Rahn/gadai adalah penguasaan   barang milik peminjam oleh pemberi pinjaman sebagai jaminan
56 Rahn Tasjily Rahn Tasjily adalah jaminan   dalam bentuk barang atas utang tetapi barang jaminan tersebut (marhun) tetap   berada dalam penguasaan (pemanfaatan) Rahin dan bukti kepemilikannya   diserahkan kepada murtahin;
57 Qardh Qard adalah penyediaan dana atau   tagihan antara lembaga keuangan syariah dengan pihak peminjam yang mewajibkan   pihak peminjam untuk melakukan pembayaran secara tunai atau cicilan dalam   jangka waktu tertentu
58 Hibah Hibah adalah penyerahan   kepemilikan suatu barang kepada orang lain tanpa imbalan apa pun
59 Ariyah Pemindahan kepemilikan manfaat   (barang) tanpa imbalan
60 Zakat Zakat adalah harta yang wajib   dikeluarkan oleh seorang muslim atau badan usaha untuk diberikan kepada yang   berhak menerimanya sesuai dengan syariat Islam
61 Infak Infak adalah harta yang   dikeluarkan oleh seseorang atau badan usaha di luar zakat untuk kemaslahatan   umum.
62 Sedekah Sedekah adalah harta atau   nonharta yang dikeluarkan oleh seseorang atau badan usaha di luar zakat untuk   kemaslahatan umum
63 Wakaf Wakaf adalah perbuatan hukum   wakif untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya   untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan   kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syariah
64 Hadiah Hadiah (pemberian) adalah barang   yang diberikan atau dikirimkan kepada seseorang sebagai tanda penghormatan   kepadanya.
65 Wasiat Pesan mengenai pemindahan   kepemilikan harta yang efektif setelah pemberi pesan meninggal, baik berupa   benda maupun manfaat
66 Ibra' Mengalihkan piutang kepada pihak   yang wajib membayar dan/atau melunasinya

Pelatihan Akuntansi Asuransi Syariah di FEBI UIN Banten


GUSTANI.ID - Alhamdulillah meski masih dalam masa Pandemi Covid-19, Allah berikan kembali kesempatan untuk berbagi dan sharing tentang Akuntansi Syariah. Kali ini adalah Pelatihan Akuntansi Asuransi Syariah yang diadakan oleh Jurusan Asuransi Syariah FEBI UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Pelatihan Akuntansi Asuransi Syariah dilaksanakan selama 3 hari pada hari Jum'at s/d Minggu, tanggal 21 s/d 23 Agustus 2020 di Hotel Inayah Syariah, Serang. 

Instruktur utama dalam pelatihan ini adalah saya sendiri, Gustani, SEI.,M.Ak.,SAS dan dibantu oleh sahabat saya Ahmad Baehaqi, SEI.,M.Ak.,SAS dosen STEI SEBI, Depok. Diikuti oleh 45 Mahasiswa tingkat akhir Jurusan Asuransi Syariah FEBI UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

Acara pelatihan ini langsung dibuka dan ditutup oleh Dekan FEBI yaitu Ibu Dr. Hj. Nihayatul Maskuroh, M.Si, dan diketuai oleh ketua jurusan Asuransi Syariah, Bapak Rustamunadi. Acara dilaksanakan dari jam 08.00 pagi sampai jam 22.00 malam selama tiga hari. 

Foto bersama Ibu Dekan FEBI UIN Banten

Tujuan Pelatihan Akuntansi Asuransi Syariah  adalah untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa terkait perlakuan akuntansi transaksi asuransi syariah sesuai PSAK 108 dan penyusunan laporan keuangan asuransi syariah berdasarkan PSAK 101, serta pemahaman akad - akad syariah pada asuransi syariah berdasarkan Fatwa DSN-MUI. 

Materi yang diberikan adalah sebagai berikut :

  1. Konsep Dasar Asuransi Syariah : Perkembangan dan operasional
  2. Implementasi Akada Syariah pada Asuransi Syariah
  3. Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Syariah
  4. Penyajian Laporan Keuangan Asuransi Syariah
  5. Akuntansi Dana Peserta
  6. Akuntansi Dana Pengelola
  7. Analisis Laporan Keuangan Asuransi Syariah
  8. Studi Kasus : Penyusunan Laporan Keuangan Asuransi Syariah.
Pada hari terakhir pelaksanaan pelatihan akuntansi asuransi syariah diberikan ujian praktek akuntansi asuransi syariah, dimulai dari penjurnalan sampai penyusunan laporan keuangan secara manual dan menggunakan aplikasi akuntansi berbasis excel. Peserta yang mengikuti pelatihan ini mendapat sertifikat pelatihan dan uji kompetensi akuntansi asuransi syariah dari LKP Amanah Learning Center. 


Jenis Laporan Keuangan Asuransi Syariah

Berdasarkan PSAK 101 Penyajian Laporan Keuangan Syariah, bahwa  laporan keuangan asuransi syariah terdiri dari 8 jenis yaitu:
  1. Laporan Posisi Keuangan
  2. Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain
  3. Laporan Arus Kas
  4. Laporan Perubahan Ekuitas
  5. Laporan Surplus Defisit Dana Tabarru'
  6. Laporan Sumber dan Penyaluran Dana Zakat
  7. Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan
  8. Catatan Atas Laporan Keuangan
Ciri khas dari perusahaan asuransi syariah adalah pemisahan dana peserta dengan dana anggota yang tercermin dari Laporan Surplus Defisit Dana Tabarru'. Dana Tabaarru' adalah dana yang dihimpun dari kontribusi peserta menggunakan akad hibah yang bertujuan untuk ta'awun antar sesama peserta asuransi.







Foto bersama Panitia dan Dekan FEBI UIN Banten

Foto bersama para peserta

Foto bersama peserta

Pelatihan Akuntansi Syariah untuk Mahasiswa 

Kebutuhan SDM yang memahami Akuntansi Syariah semakin tinggi seiring semakin bertumbuh dan menggeliatnya entitas bisnis dan keuangan syariah di tanah air. Kami membuka kerjasama pelatihan akuntansi syariah untuk Mahasiswa tingkat akhir sebagai bekal bagi mahasiswa untuk memasuki dunia kerja di Industri Bisnis dan Keuangan Syariah. Materi pelatihan diantaranya adalah :
  1. Akuntansi Transaksi Syariah
  2. Akuntansi Bank Syariah
  3. Akuntansi Koperasi Syariah
  4. Akuntansi Asuransi Syariah
  5. Akuntansi Lembaga Zakat 
  6. Akuntansi Entitas Wakaf
Rujukan yang dijadikan acuan adalah SAK Syariah, Fatwa DSN-MUI, dan Regulasi terkait dengan entitas syariah. Instruktur utama Pelatihan Akunatnsi Syariah ini adalah Gustani, SEI.,M.Ak.,SAS yang telah lulus Ujian Sertifikasi Akuntansi Syariah (USAS) dari IAI dan mendapat gelas Sertifikasi Akuntansi Syariah (SAS). 


Kontak kerjasama : 082357909050


Penulis : Gustani, SEI.,M.Ak.,SAS

Portopolio Menjadi Trainer Akuntansi Syariah 

Praktek Relaksasi Pembiayaan di Masa Wabah dalam Tinjauan Syar'i



GUSTANI.ID - Pandemi COVID - 19 yang kini tengah melanda Indonesia dan dunia telah memberikan dampak bagi perekonomian masyarakat. Termasuk menurunnya kemampuan bayar bagi nasabah perbankan. Agar kualitas aset perbankan tetap terjaga, maka diperlukan program relaksasi kredit/pembiayaan. 

OJK telah mengeluarkan Peraturan OJK No. 11 Tahun 2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019. Bentuk relaksasi yang dapat diberikan oleh perbankan kepada nasabah terdampak COVID-19 adalah dengan :
  1. Penilaian kualitas kredit/pembiayaan/penyediaan dana lain hanya berdasarkan ketepatan pembayaran pokok dan/atau bunga untuk kredit/pembiayaan/penyediaan dana lain dengan plafon s.d Rp10 miliar; dan
  2. Peningkatan kualitas kredit/pembiayaan menjadi lancar setelah direstrukturisasi selama masa berlakunya POJK. Ketentuan restrukturisasi ini dapat diterapkan Bank tanpa melihat batasan plafon kredit/pembiayaan atau jenis debitur
RESTRUKTURISASI PEMBIAYAAN adalah ikhtiar memberikan kemudahan bagi nasabah/anggota koperasi yang sedang mengalami kesulitan untuk memenuhi kewajibannya kepada Lembaga/Institusi Keuangan, namun nasabah/anggota koperasi dinilai masih memiliki prospek usaha yang feasible dan dinilai mampu memenuhi kewajiban setelah pembiayaan tersebut DIRESTRUKTURISASI.

Cara restrukturisasi kredit/pembiayaan dilakukan sebagaimana diatur dalam peraturan OJK mengenai penilaian kualitas aset, antara lain dengan cara:
  1. penurunan suku bunga;
  2. perpanjangan jangka waktu;
  3. pengurangan tunggakan pokok;
  4. pengurangan tunggakan bunga;
  5. penambahan fasilitas kredit/pembiayaan; dan/atau
  6. konversi kredit/pembiayaan menjadi Penyertaan Modal Sementara

Tinjauan Syar'i 

Bagaimana tinjauan syar'i terkait praktek relaksasi berupa restrukturisasi pembiayaan pada Lembaga Keuangan Syariah ? Berikut ini adalah ketentuan fatwa DSN-MUI yang mengatur praktek restrukturisasi pembiayaan syariah pada LKS.

Penurunan Suku Bunga tidak masuk dalam skema restrukturisasi pembiayaan syariah karena pembiayaan syariah tidak terpengaruh oleh suku bunga yang fluktuatif. 

Perpanjangan jangka waktu 

Perpanjangan jangka waktu atau rescheduling DIBOLEHKAN secara syariah. Pada akad pembiayaan murabahah dan akad berbasis jual-beli lainnya, praktek rescheduling tidak diperkenankan menambah margin keuntungan. Sebagaimana diatur dalam fatwa DSN-MUI No. 48 :
LKS boleh melakukan penjadwalan kembali (rescheduling) tagihan murabahah bagi nasabah yang tidak bisa menyelesaikan/melunasi pembiayaannya sesuai jumlah dan waktu yang telah disepakati, dengan ketentuan:

  1. Tidak menambah jumlah tagihan yang tersisa;
  2. Pembebanan biaya dalam proses penjadwalan kembali adalah biaya riil;
  3. Perpanjangan masa pembayaran harus berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak
Sedang pada akad ijarah dan syirkah diperbolehkan untuk merubah ujroh dan nisbah jika dilakukan rescheduling, sebagaimana diatur dalam fatwa DSN-MUI No. 56 tentang Riview Ujroh dan Fatwa DSN-MUI No. 114 tentang Akad Syirkah. 


Pengurangan Tunggakan

Pengurangan Tunggakan, baik tunggakan pokok atau keuntungan berupa margin/ujrih/bagihasil DIBOLEHKAN, dengan mengikuti ketentuan fatwa DSN-MUI No. 46 tentang Potongan Tagihan Murabahah :
  1. LKS boleh memberikan potongan dari total kewajiban pembayaran kepada nasabah dalam transaksi (akad) murabahah yang telah melakukan kewajiban pembayaran cicilannya dengan tepat waktu dan nasabah yang mengalami penurunan kemampuan pembayaran.
  2. Besar potongan sebagaimana dimaksud di atas diserahkan pada kebijakan LKS.
  3. Pemberian potongan tidak boleh diperjanjikan dalam akad.

Penambahan Fasilitas Pembiayaan

Bentuk restrukturisasi lainya adalah penambahan fasilitas pembiayaan baru sebagai stimulus agar usaha nasabah dapat berjalan kembali. Penambahan fasilitas pembiayaan dapat dilakukan dengan skema refinancing, yaitu pemberian fasilitas pembiayaan baru bagi nasabah baru atau nasabah yang belum melunasi pembiayaan sebelumnya. 

Ketentuan syariah refinancing pembiayaan mengacu pada fatwa DSN-MUI no. 89 tentang Refinancing Syariah. Refinancing syariah dapat dilakukan dengan 3 skema yaitu: Skema akad Musyarakah Mutanaqishah (MMQ), skema Al-Bai' wal Isti'jar, dan skema akad al-bai' dalam rangka musyarakah mutaqishah. 

BACA JUGA : Refinancing Syariah 

Konversi Pembiayaan

Konversi pembiayaan dilakukan dengan cara merubah akad pembiayaan sebelumnya menjadi pembiayaan baru dengan akad baru. Konversi akad mengacu pada fatwa DSN-MUI No. 49 tentang Konversi Akad Murabahah, dengan ketentuan sebagai berikut :

LKS boleh melakukan konversi dengan membuat akad (membuat akad baru) bagi nasabah yang tidak bisa menyelesaikan/ melunasi pembiayaan murabahahnya sesuai jumlah dan waktu yang telah disepakati, tetapi ia masih prospektif, dengan ketentuan:


a. Akad murabahah dihentikan dengan cara:

  1. Obyek murabahah dijual oleh nasabah kepada LKS dengan harga pasar
  2. Nasabah melunasi sisa hutangnya kepada LKS dari hasil penjualan;
  3. Apabila hasil penjualan melebihi sisa hutang maka kelebihan itu dapat dijadikan uang muka untuk akad ijarah atau bagian modal dari mudharabah dan musyarakah;
  4. Apabila hasil penjualan lebih kecil dari sisa hutang maka sisa hutang tetap menjadi hutang nasabah yang cara pelunasannya disepakati antara LKS dan nasabah.
b. LKS dan nasabah ex-murabahah tersebut dapat membuat akad baru dengan akad:

  1. Ijarah Muntahiyah Bit Tamlik atas barang tersebut di atas dengan merujuk kepada fatwa DSN No. 27/DSNMUI/III/2002 tentang Al Ijarah Al-Muntahiyah Bi Al-Tamlik;
  2. Mudharabah dengan merujuk kepada fatwa DSN No. 07/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Mudharabah (Qiradh); atau
  3. Musyarakah dengan merujuk kepada fatwa DSN No. 08/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Musyarakah.
Semoga dengan memahami aspek syariah atas relaksasi pembiayaan yang diberikan kepada nasabah memberikan keberkahan bagi lembaga keuangan syariah. Materi "Praktek Relaksasi Pembiayaan di Masa Wabah dalam Tinjauan Syar'i" disampaikan oleh Dr. Yulizar Djamaluddin Sanrego yang diadakan oleh PT PBMT Ventura Syariah. Materinya dapat didownload DISINI



**Konsultasi terkait praktek akad syariah pada Lembaga Keuangan Syariah dapat kontak saya

Rescheduling Pembiayaan Syariah pada LKS, Bagaimana Ketentuan Syariahnya ?

Rescheduling Pembiayaan Syariah pada LKS


GUSTANI.ID - Pembiayaan yang disalurkan kepada nasabah oleh lembaga keuangan syariah (LKS) seperti bank syariah, lembaga pembiayaan, dan BMT selalu memiliki risiko kredit, yaitu risiko dana tidak dibayarkan kembali oleh nasabah. Penyebabnya bermacam-macam, bisa karena terjadinya penurunan kemampuan karena berbagai faktor atau karena karakter tidak baik dari nasabah yang bersangkutan. Terlebih dimasa pandemi Covid-19 saat ini, nasabah mengalami penurunan kemampuan membayar tagihan karena terdampak secara ekonomi. 

Pembiayaan bermasalah menyebabkan kinerja keuangan perusahaan bisa terganggu yang ditunjukan dengan meningkatnya rasio Non Performing Financing (NPF) atau menurunnya pendapatan dilihat dari rasio Return on Asset (ROA), yang dapat mengakibatkan menurunnya bagi hasil yang diberikan kepada DPK. 

Salah satu cara menanggulangi pembiayaan bermasalah adalah dengan melakukan restrukturisasi pembiayaan yang disalurkan. Restrukturisasi pembiayaan syariah adalah upaya yang dilakukan oleh LKS dalam rangka membantu nasabah agar dapat menyelesaikan kewajibannya. Bentuk restrukturisasi yang banyak dilakukan adalah penjadwalan kembali tagihan atau rescheduling.

Rescheduling adalah penjadwalan kembali tagihan pembiayaan dengan tujuan untuk memberikan keringanan bagi nasabah dalam melakukan pembayaran kewajibannya. Cara ini digunakan untuk menanggulangi pembiayaan bermasalah yang diakibatkan menurunnya kemampuan nasabah dalam melakukan pembayaran sesuai dengan tagihan yang sudah terjadwal sebelumnya. 

Contoh, Fulan mendapat pembiayaan dari LKS A, dengan total tagihan yang harus dibayar Rp 120 dengan jangka waktu 12 bulan. Maka angsuran per bulannya adalah Rp 10. Jika dibulan ke 6, Fulan mengalami penurunan kemampuan, sehingga hanya bisa membyar Rp 5 per bulan, maka sisa tagihan Fulan dapat di reschedul sesuai dengan kemampuan bayarnya. 

Rescheduling pada pembiayaan syariah DIBOLEHKAN, karena Rescheduling adalah bagian dari ikhtiar memberikan kemudahan atau keringanan bagi orang berhutang yang sedang mengalami penurunan kemampuan bayar, hal ini adalah bagian dari ajaran Islam, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al Baqarah 280 :

وَإِن كَانَ ذُو عُسۡرَةٍ۬ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيۡسَرَةٍ۬‌ۚ وَأَن تَصَدَّقُواْ خَيۡرٌ۬ لَّڪُمۡ‌ۖ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ

”... Dan jika (orang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguhan sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”

Rasulullah SAW bersabda : “Orang yang melepaskan seorang muslim dari kesulitannya di dunia, Allah akan melepaskan kesulitannya di hari kiamat; dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia (suka) menolong saudaranya” (HR. Muslim)
  
Isu krusial dalam praktek rescheduling pembiayaan adalah terkait apakah boleh LKS mengambil keuntungan tambahan dari penjadwalan ulang pembiayaan yang disalurkan ?

Sebab pada umumnya di lembaga keuangan konvensional, jika jadwal angsuran kredit ditambah, maka akan ada penambahan bunga yang menjadi pendapatan lembaga.

Ketentuan syariah pada rescheduling pembiayaan syariah mempertimbangkan karakteristik dari akad yang melandasinya. Sebab karakteristik rumpun akad  jual-beli, rumpun akad syirkah, dan rumpun akad ijarah berbeda. Diantara perbedaan tersebut adalah terkait keuntungan yang diperoleh. Keuntungan (margin) pada akad jual-beli fix diawal akad dan tidak diperbolehkan ada perubahan. Pada rumpun akad syirkah, keuntungan tidak boleh ditentukan diawal akad, yang ditentukan hanya nisbah. Sedang dalam akad ijarah, keuntungan harus ditentukan diawal dan dimungkinkan untuk dilakukan perubahan dikemudian hari. 

Berikut ini adalah ketentuan syariah terkait rescheduling pembiayaan syariah menurut fatwa DSN-MUI.

Rescheduling Pembiayaan Jual-Beli

Karakteristik dari rumpun akad jual-beli seperti murabahah, istisna', dan salam adalah keuntungan harus disepakati diawal saat akad dan tidak boleh ada perubahan jika telah disepakati. Sehingga penambahan jangka waktu dalam rescehduling pembiayaan akad rumpun jual-beli dilarang untuk merubah margin yang telah disepakati diawal akad. Fatwa DSN-MUI No. 48 tentang Penjadwalan Kembali Tagihan Murabahah mengatur ketentuan syariah terkait reschedulig pembiayaan murabahah sebagai berikut : 

LKS boleh melakukan penjadwalan kembali (rescheduling) tagihan murabahah bagi nasabah yang tidak bisa menyelesaikan/melunasi pembiayaannya sesuai jumlah dan waktu yang telah disepakati, dengan ketentuan:
  1. Tidak menambah jumlah tagihan yang tersisa;
  2. Pembebanan biaya dalam proses penjadwalan kembali adalah biaya riil;
  3. Perpanjangan masa pembayaran harus berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak.
Sehingga penambahan margin dalam rescheduling pembiayaan murabahah dan akad jual-beli lainnya tidak diperkenankan secara syariah, karena termasuk dalam praktek riba.

Rescheduling Pembiayaan Syirkah 

Pada pembiayaan rumpun akad syirkah seperti akad murabahah dan musyarakah, praktek resheduling lebih fleksibel dari akad jual-beli dimana perubahan jangka waktu pengembalian modal dan bagi hasil diperbolehkan untuk merubah nisbah selama para mitra menyepakati. KEBOLEHAN melakukan perubahan nisbah dalam akad syirkah sebagaimana diatur dalam fatwa DSN-MUI No. 114 tentang Syirkah pada bagian keenam ketentuan Nisbah Bagi-Hasil :
  1. Sistem/metode pembagian keuntungan harus disepakati dan dinyatakan secara j elas dalam akad.
  2. Nisbah boleh disepakati dalam bentuk nisbah-proporsional atau dalam bentuk nisbah-kesepakatan.
  3. Nisbah sebagaimana angka 2 dinyatakan dalam bentuk angka persentase terhadap keuntungan dan tidak boleh dalam bentuk nominal atau angka persentase dari modal usaha.
  4. Nisbah-kesepakatan sebagaimana angka 2 tidak boleh menggunakan angka persentase yang mengakibatkan keuntungan hanya dapat diterima oleh salah satu mitra atau mitra tertentu.
  5. Nisbah-kesepakatan boleh dinyatakan dalam bentuk muitinisbah (berjenjang/tiering).
  6. Nisbah-kesepakatan boleh diubah sesuai kesepakatan.
Artinya jika terjadi perubahan jangka waktu pengembalian modal atau pembayaran bagi hasil dalam akad syirkah maka dibolehkan untuk melakukan perubahan nisbah yang telah disepakati diawal.

Rescheduling Pembiayaan Ijarah

Sedangkan pada pembiayaan rumpun akad ijarah, juga dimungkinkan untuk melakukan perubahan ujroh jika terjadi rescheduling. Mengacu pada ketentuan fatwa DSN-MUI 56 tentang Riview Ujroh :

Review Ujrah boleh dilakukan antara para pihak yang melakukan akad Ijarah apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
  1. Terjadi perubahan periode akad Ijarah;
  2. Ada indikasi sangat kuat bahwa bila tidak dilakukan review, maka akan timbul kerugian bagi salah satu pihak;
  3. Disepakati oleh kedua belah pihak 
Dalam akad ijarah lebih fleksibel karena ujroh ditentukan fix diawal akad dan dibolehkan untuk merubah ujroh dikemudian hari atas dasar kesepakatan bersama.

Semoga dengan langkah memberikan kemudahan atau keringan bagi nasabah atau anggota pembiayaan dalam membayar kewajibannya akan memberikan keberkahan bagi lembaga keuangan syariah.

Wallahua'lam.


**Konsultasi terkait praktek rescheduling pembiayaan syariah pada LKS dapat kontak saya DISINI

Mengenal Transfer Pricing Documentation (TP DOC)

TP DOC

GUSTANI.ID - Dalam rangka memenuhi ketentuan Peraturan Perpajakan sebagaimana diatur dalam PMK-213/PMK.03/2016 tentang Jenis Dokumen dan/atau informasi tambahan yang wajib disimpan oleh wajib pajak yang melakukan transaksi dengan para pihak yang memiliki hubungan istimewa dan tatacara pengelolaannya, perusahaan berkewajiban untuk menyusun Transfer Pricing Documentation (TP DOC).

TP Doc adalah dokumen yang diselenggarakan oleh wajib pajak sebagai dasar penerapan Prinsip Kewajaran dan Kelaziman Usaha (ALP) dalam Penentuan Harga Transfer yang dilakukan oleh Wajib Pajak. Perlu tidaknya penyampaian TP Doc didasarkan pada SPT Tahunan tahun pajak sebelumnya dengan memperhatikan apakah di tahun pajak terdapat transaksi afiliasi atau tidak.



JENIS JENIS TP DOC.

A. Master File (Dokumen Induk); dengan syarat :
  1. Memiliki transaksi barang berwujud lebih dari Rp 50.000.000.000 di tahun pajak sebelumnya.
  2. Memiliki transaksi afiliasi barang berwujud lebih dari Rp 20.000.000.000 di tahun pajak sebelumnya.
  3. Memiliki transaksi afiliasi jasa, bunga, dan barang tidak berwujud lebih dari Rp 5.000.000.000 di tahun pajak sebelumnya.
  4. Pihak Afilasi berada di Negara dengan tarif pajak lebih rendah dari tarif pasal 17 UU PPh.

B. Local File (Dokumen Lokal); dengan syarat :
  1. Memiliki transaksi barang berwujud lebih dari Rp 50.000.000.000 di tahun pajak sebelumnya.
  2. Memiliki transaksi afiliasi barang berwujud lebih dari Rp 20.000.000.000 di tahun pajak sebelumnya.
  3. Memiliki transaksi afiliasi jasa, bunga, dan barang tidak berwujud lebih dari Rp 5.000.000.000 di tahun pajak sebelumnya.
  4. Pihak Afilasi berada di Negara dengan tarif pajak lebih rendah dari tarif pasal 17 UU PPh.

C. CbCR (Laporan per Negara) dibagi atas :
  1. Mekanisme Pengarsipan Primer dengan syarat :
    - Merupakan entitas induk dari grup usaha di Indonesia
    - Peredaran Bruto konsolidasi di tahun pajak 2019 lebih dari Rp 11.000.000.000.000.
  2. Mekanisme Pengarsipan Sekunder dengan syarat :
    - Wajib Pajak Dalam Negeri Indonesia yang merupakan anggota dari group usaha yang induknya berada di Luar Indonesia.
    - Jika Negara Entitas Induk tidak mewajibkan CbCR maka Wajib Pajak Dalam Negeri Indonesia wajib CbCR.
    - Jika Negara Entitas Induk tidak memiliki perjanjian pertukaran CbC dengan Indonesia maka Wajib Pajak Dalam Negeri Indonesia wajib CbCR.
    - Jika Negara Entitas Induk memiliki perjanjian pertukaran CbC dengan Indonesia dan CbC sulit diperoleh maka Wajib Pajak Dalam Negeri Indonesia wajib CbCR

JANGKA WAKTU TERSEDIA NYA MASTER FILE, LOCAL FILE, DAN CbCR.

A. Master File
  1. Dasar penyusunan master file adalah data dan informasi yang tersedia saat dilakukan transaksi.
  2. Harus tersedia paling lama 4 bulan setelah akhir tahun pajak.
  3. Wajib disampaikan oleh wajib pajak saat diminta oleh DJP yaitu dalam tempo 14 hari setelah tanggal surat permintaan yang dikirim oleh DJP kepada wajib pajak dalam rangka pengawasan kepatuhan (SE-39/PJ/2015).
  4. Di dalam penyampaian SPT Tahunan 2019 wajib melampirkan Pernyataan saat tersedianya dokumen.

B. Local File
  1. Dasar penyusunan local file adalah data dan informasi yang tersedia saat dilakukan transaksi.
  2. Harus tersedia paling lama 4 bulan setelah akhir tahun pajak.
  3. Wajib disampaikan oleh wajib pajak saat diminta oleh DJP yaitu dalam tempo 14 hari setelah tanggal surat permintaan yang dikirim oleh DJP kepada wajib pajak dalam rangka pengawasan kepatuhan (SE-39/PJ/2015).
  4. Di dalam penyampaian SPT Tahunan 2019 wajib melampirkan Pernyataan saat tersedianya dokumen.
C. CBcR
  1. Dasar penyusunan CBbR adalah data dan informasi yang tersedia sampai dengan akhir tahun pajak.
  2. Harus tersedia paling lama 12 bulan setelah akhir tahun pajak.
  3. Wajib disampaikan oleh wajib pajak dilampiran SPT Tahunan tahun berikut nya berupa :
    - Kertas Kerja Laporan Per Negara (Lampiran huruf E).
    - Alokasi penghasilan, pajak yang dibayar, dan aktivitas per negara (lampiran huruf F).
    - Daftar Anggota grup usaha dan kegiatan utama per negara atau yurisdiksi (lampiran huruf G).


Bagi anda yang kesulitan dalam menyusun Transfer Pricing Documentation (TP DOC), kami menyediakan Jasa Penyusunan Transfer Pricing Documentation (TP DOC), dengan tim yang profesional dan telah berpengalaman mengerjakan Transfer Pricing Documentation (TP DOC) pada beberapa perusahaan. 

Jasa Penyusunan Transfer Pricing Documentation (TP Doc) - CIAYUMAJAKUNING


GUSTANI.ID - Dalam rangka memenuhi ketentuan Peraturan Perpajakan sebagaimana diatur dalam PMK-213/PMK.03/2016 tentang Jenis Dokumen dan/atau informasi tambahan yang wajib disimpan oleh wajib pajak yang melakukan transaksi dengan para pihak yang memiliki hubungan istimewa dan tatacara pengelolaannya, kami menyadiakan Jasa Penyusunan Transfer Pricing Documentation (TP Doc) untuk perusahaan anda. 

Kami telah berpengalaman dalam memberikan Jasa Penyusunan Transfer Pricing Documentation (TP Doc) kepada beberapa perusahaan di beberapa daerah di Indonesia. Tim kami terdiri dari profesional yang telah berpengalaman di bidang perpajakan dan keuangan. 

Bagi anda yang memiliki usaha di wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan (CIAYUMAJAKUNING) dan wilayah lainnya, Jika berminat dengan Jasa Penyusunan Transfer Pricing Documentation (TP Doc) kami, dapat kontak 082357909050 (Gustani). Penawaran Jasa Penyusunan Transfer Pricing Documentation (TP Doc) akan segera kami kirimkan. 

Selain Jasa Penyusunan Transfer Pricing Documentation (TP Doc) untuk wilayah CIAYUMAJAKUNING, kami juga menyediakan beberapa jasa akuntansi dan keuangan untuk wilayah CIAYUMAJAKUNING dan seluruh wilayah di Indonesia berikut ini :






Apa Yang Kau Cari dari Pernikahan ?

Apa yang kau cari dari pernikahan ?


GUSTANI.ID - Setiap membuka lembaran baru dalam kehidupan kita, pasti ada harapan yang kita sematkan di dalamnya. Termasuk dalam pernikahan. 

Apa yang dicari dari pernikahan ? 

Jawabannya adalah : "KEBERKAHAN" sebagaimana terangkum dalam doa pernikahan yang diajarkan oleh baginda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a :


أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا رَفَّأَ إِنْسَانًا إِذَا تَزَوَّجَ قَالَ بَارَكَ اَللَّهُ لَكَ , وَبَارَكَ عَلَيْكَ , وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْر

Bahwa Nabi Saw bila mendoakan seseorang yang nikah, beliau bersabda, “Semoga Allah memberkahimu dan menetapkan berkah atasmu, serta mengumpulkan engkau berdua dalam kebaikan.”

Makna بَارَكَ اَللَّهُ لَكَ adalah semoga Allah memberkahimu atas segala nikmat yang Allah anugerahkan kepada pasangan yang telah menikah. Lalu وَبَارَكَ عَلَيْكَ diulangi lagi dengan kalimat serupa yang bermakna semoga Allah juga memberkahi pasangan pengantin atas segala cobaan yang pasti kelak akan dihadapi selama menjalani mahligai rumah tangga. Kemudian ditutup dengan وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْر semoga Allah mengumpulkan kedua pasangan ini dalam kebaikan, baik di dunia maupun diakhirat.

Doa ini merangkum seluruh harapan dan tujuan yang dicari oleh setiap insan yang menjalani pernikahan, yaitu KEBERKAHAN. BERKAH berarti bertambahnya kebaikan dalam setiap hal. 

Pasangan suami istri harus menyadari bahwa dalam menjalani kehidupan berumahtangga kelak, tidak akan selalu dalam keadaan lapang, akan ada ujian yang kadang menyapa. Allah memastikan bahwa manusia akan diuji dengan berbagai hal, sebagaimana firman-Nya :

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَىۡءٍ۬ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٍ۬ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٲلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٲتِ‌ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِينَ 


Artinya :"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar". (QS Al Baqarah 155)

Ada pasangan yang mampu melewati ujian kenikmatan, namun rapuh saat diuji dengan sedikit kekurangan harta, dan ada pula yang sebaliknya, saat dalam keadaan yang serba kekurangan mereka taat kepada Allah, namun saat diuji dengan sedikit kebercukupan mulai berpaling dari Allah.

Bagi seorang yang beriman, apapun ujian yang Allah berikan akan memandang dengan pandangan kebaikan. Karena iman yang menuntun orang beriman untuk menyikapi dengan sikap yang tepat dari episode ujian yang Allah berikan. 

Apa kuncinya, untuk dapat meraih KEBERKAHAN dalam pernikahan ?

SYUKUR dan SABAR. Syukur kala diberikan nikmat dan sabar kala ujian melanda. Ini adalah sifat dari orang yang beriman. Sehingga semua kondisi baik baginya, tidak ada ruang untuk mengeluh dan berpaling dari Allah. 

Bahkan Rasulullah SAW pun takjub dengan sifat orang yang beriman, sebagaimana sabdanya :

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Artinya : “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)

Sebab IMAN lah yang menghadirkan KEBERKAHAN dalam hidup, termasuk dalam kehidupan berumahtangga, maka kejarlah KEBERKAHAN itu dengan meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT, dan ini harus menjadi visi dan misi suami dan istri. 

Wallahua'lam.



*Materi ini saya sampaikan dalam khutbah nikah salah satu mahasiswi saya di STEI Al-Ishlah Cirebon.

Apa yang kau cari dari pernikahan ?


PRODUK & JASA

RISET & KARYA TULIS

KEISLAMAN

PELATIHAN

AKUNTANSI SYARIAH

SERBA SERBI