Konsep Syariah dalam Berkoperasi: Diklat Anggota KPPD DKI Jakarta

Konsep Syariah dalam Berkoperasi: Diklat Anggota KPPD DKI Jakarta

GUSTANI.ID - Jumat, 26 Agustus 2022 saya berkesempatan menjadi narasumber dalam acara Diklat Anggota Koperasi Pegawai Pemerintah Daerah (KPPD) DKI Jakarta di Hotel Royal Safari Garden di Bogor. Acara ini diikuti oleh sekitar 200-an anggota koperasi dan merupakan bagian dari program pendidikan koperasi kepada anggota. Saya memberikan materi tentang Konsep Syariah dalam Berkoperasi.

Kesadaran anggota koperasi untuk berkoperasi sesuai syariah semakin meningkat, seiring meningkatnya kesadaran untuk bersyariah dalam aspek ekonomi. Oleh karena itu banyak Koperasi yang mulai menyediakan layanan syariah pada produknya, bahkan ada beberapa koperasi yang melakukan perubahan menjadi koperasi syariah.

Landasan hukum koperasi syariah di Indonesia dapat merujuk ke Peraturan Menteri Koperasi dan UKM Nomor 11 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah oleh Koperasi. Sedangkan Landasan Syariah berkoperasi syariah dapat merujuk ke Fatwa DSN-MUI Nomor 141 tahun 2021 tentang Pedoman Pendirian dan Operasional Koperasi Syariah. 

Salah satu aspek yang sangat penting dalam berkoperasi syariah adalah terkait kejelasan akad pada setiap produk koperasi. Akad yang digunakan pada produk simpanan dapat menggunakan akad Wadiah atau Mudharabah. Sedangkan pada produk Pembiayaan menggunakan tiga skema akad yaitu:

  1. Akad Bai' (Jual - Beli) menggunakan akad Musawamah, Murabahah, Salam, dan Istisna'.
  2. Akad Ijarah (Sewa - Menyewa) menggunakan akad Ijarah, Ijarah Muntahiya BitTamlik, Ijarah Multijasa, dan Ijarah Maushufah Fi Dzimmah
  3. Akad Syirkah (Kerjasama) menggunakan akad musyarakah dan mudharabah.
  4. Akad Qardh (Pinjaman)
Kehadiran koperasi syariah dapat menjadi opsi bagi masyarakat dalam memperoleh layanan keuangan berbasis syariah. 

Semoga bermanfaat !

Konsultasi seputar koperasi syariah dapat menghubungi saya DISINI

Macam - Macam Jenis Opini Auditor

Macam - Macam Jenis Opini Auditor

GUSTANI.ID - Jika dalam Akuntansi outputnya adalah Laporan Keuangan, sedangkan dalam Audit outputnya adalah Laporan Auditor Independen (LAI) yang memuat Opini Auditor. 

Auditor harus merumuskan suatu opini tentang apakah laporan keuangan disusun, dalam semua hal yang material, sesuai dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku. Untuk merumuskan opini tersebut, auditor harus menyimpulkan apakah auditor telah memperoleh keyakinan yang memadai tentang apakah laporan keuangan secara keseluruhan bebas dari salah saji material, baik yang disebabkan kecurangan maupun kesalahan (SA 700).

Secara khusus, auditor harus mengevaluasi apakah, dari sudut pandang ketentuan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku: 

  1. Laporan keuangan mengungkapkan kebijakan akuntansi signifikan yang dipilih dan  diterapkan secara memadai; 
  2. Kebijakan akuntansi yang dipilih dan diterapkan konsisten dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku dan sudah tepat; 
  3. Estimasi akuntansi yang dibuat oleh manajemen adalah wajar; 
  4. Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan adalah relevan, dapat diandalkan, dapat diperbandingkan, dan dapat dipahami; 
  5. Laporan keuangan menyediakan pengungkapan yang memadai untuk memungkinkan pengguna laporan keuangan yang dituju memahami pengaruh transaksi dan peristiwa material terhadap informasi yang disampaikan dalam laporan keuangan; dan
  6. Terminologi yang digunakan dalam laporan keuangan, termasuk judul setiap laporan keuangan, sudah tepat. 

JENIS OPINI AUDITOR

Opini auditor dikategorikan dalam 2 kelompok besar yaitu (SA 700) :

1. Opini Tanpa Modifikasian

Auditor harus menyatakan opini tanpa modifikasian bila auditor menyimpulkan bahwa  laporan keuangan disusun, dalam semua hal yang material, sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku. Opini biasa disebut dengan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).

2. Opini Dengan Modifikasian

Auditor harus memodifikasi opini dalam laporan auditor ketika (SA705) :
  1. Auditor menyimpulkan bahwa, berdasarkan bukti audit yang diperoleh, laporan secara keseluruhan tidak bebas dari kesalahan penyajian material; atau
  2. Auditor tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat untuk menyimpulkan bahwa laporan keuangan secara keseluruhan bebas dari kesalahan penyajian material
Menurut SA 705, terdapat 3 tipe opini auditor dengan modifikasian, yaitu Opini Wajar Dengan Pengecualian, Opini Tidak Wajar, dan Opini Tidak Menyatakan Pendapat.

1. Opini Wajar Dengan Pengecualian

Auditor harus menyatakan opini wajar dengan pengecualian ketika: 
  • Auditor, setelah memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat, menyimpulkan bahwa kesalahan penyajian, baik secara individual maupun secara agregasi, adalah material, tetapi tidak pervasif, terhadap laporan keuangan; atau 
  • Auditor tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat yang mendasari opini, tetapi auditor menyimpulkan bahwa kemungkinan dampak kesalahan penyajian yang tidak terdeteksi terhadap laporan keuangan, jika ada, dapat bersifat material, tetapi tidak pervasif.

2. Opini Tidak Wajar

Auditor harus menyatakan suatu opini tidak wajar ketika auditor, setelah memperoleh  bukti audit yang cukup dan tepat, menyimpulkan bahwa kesalahan penyajian, baik secara individual maupun secara agregasi, adalah material dan pervasif terhadap laporan keuangan.

3. Opini Tidak Monyatakan Pendapat 

Auditor tidak boleh menyatakan pendapat ketika:
  • Auditor tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat yang mendasari opini, dan auditor menyimpulkan bahwa kemungkinan dampak kesalahan penyajian yang tidak terdeteksi terhadap laporan keuangan, jika ada, dapat bersifat material dan pervasif. 
  • dalam kondisi yang sangat jarang yang melibatkan banyak ketidakpastian, auditor menyimpulkan bahwa, meskipun telah memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat tentang setiap ketidakpastian tersebut, auditor tidak dapat merumuskan suatu opini atas laporan keuangan karenainteraksi yang potensialdari ketidakpastian tersebut dan kemungkinan dampak kumulatif dari ketidakpastian tersebut terhadap laporan keuangan. 

FORMAT OPINI AUDITOR

Opini auditor harus dibuat secara tertulis dengan format sebagai berikut (SA 700):
  • Judul
  • Pihak yang Dituju
  • Paragraf Pendahuluan
  • Tanggung Jawab Manajemen atas Laporan Keuangan
  • Tanggung Jawab Auditor
  • Opini Auditor
  • Tanggung Jawab Pelaporan Lainnya
  • Tanda Tangan Auditor
  • Tanggal Laporan Auditor
  • Alamat Auditor

Bentuk Baku Opini Tanpa Modifikasian

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN 

[Pihak yang Dituju] 
Kami telah mengaudit laporan keuangan PT ABC terlampir, yang terdiri dari laporan posisi keuangan tanggal [31 Desember 2014), serta laporan laba-rugi komprehensif, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, dan suatu ikhtisar kebijakan akuntansi signifikan dan informasi penjelasan lainnya. 

Tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan 

Manajemen bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian wajar laporan keuangan tersebut sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia, dan atas pengendalian internal yang dianggap perlu oleh manajemen untuk memungkinkan penyusunan laporan keuangan yang bebas dari kesalahan penyajian material, baik yang disebabkan oleh kecurangan maupun kesalahan. 

Tanggung jawab auditor 

Tanggung jawab kami adalah untuk menyatakan suatu opini atas laporan keuangan tersebut berdasarkan audit kami. Kami melaksanakan audit kami berdasarkan Standar Audit yang ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami untuk mematuhi ketentuan etika serta merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan tersebut bebas dari kesalahan penyajian material. 

Suatu audit melibatkan pelaksanaan prosedur untuk memperoleh bukti audit tentang angka-angka dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Prosedur yang dipilih bergantung pada pertimbangan auditor, termasuk penilaian atas risiko kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan, baik yang disebabkan oleh kecurangan maupun kesalahan. Dalam melakukan penilaian risiko tersebut, auditor mempertimbangkan pengendalian internal yang relevan dengan penyusunan dan penyajian wajar laporan keuangan entitas untuk merancang prosedur audit yang tepat sesuai dengan kondisinya, tetapi bukan untuk tujuan menyatakan opini atas keefektivitasan pengendalian internal entitas. Suatu audit juga mencakup pengevaluasian  atas ketepatan kebijakan akuntansi yang digunakan dan kewajaran estimasi akuntansi yang dibuat oleh manajemen, serta pengevaluasian atas penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. 

Kami yakin bahwa bukti audit yang telah kami peroleh adalah cukup dan tepat untuk menyediakan suatu basis bagi opini audit kami. 

Opini 

Menurut opini kami, laporan keuangan terlampir menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan PT ABC tanggal [31 Desember 2014), serta kinerja keuangan dan arus kasnya untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia. 

[Nama Kantor Akuntan Publik ("KAP')] 
[Tanda tangan Akuntan Publik] 
[Nama Akuntan Publik] 
[Nomor registrasi Akuntan Publik] 
[Nomor registrasi KAP (jika tidak tercantum dalam kop surat KAP)] 
[Tanggal laporan] 
[Alamat KAP (jika tidak tercantum dalam kop surat KAP)] 


CONTOH OPINI AUDITOR





Semoga bermanfaat !

5 Jenis Laporan Keuangan Menurut SAK yang Harus Diketahui

5 Jenis Laporan Keuangan Menurut SAK yang Harus Diketahui

GUSTANI.ID - Laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dan sistematis mulai dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas yang menyediakan informasi keuangan yang bermanfaat bagi sebagian besar pengguna laporan keuangan dalam pengambilan keputusan ekonomik. Sealin itu laporan keuangan juga sebagai bentuk pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka. 

Yang bertanggungjawab atas penyusunan dan penyajian laporan keuangan suatu entitas adalah Manajemen, seperti Direksi pada PT atau Pengurus pada Yayasa. Laporan keuangan yang disusun dan disajikan harus patuh terhadap ketentuan Standar Akuntans Keuangan (SAK) yang berlaku di Indonesia. 

Laporan keuangan yang lengkap menurut PSAK 101: Penyajian Laporan Keuangan terdiri dari 5 jenis yaitu :

  1. Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
  2. Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain
  3. Laporan Perubahan Ekuitas
  4. Laporan Arus Kas
  5. Catatan Atas Laporan Keuangan

5 jenis laporan keuangan tersebut memiliki kedudukan yang sama dan penting bagi pihak eksternal sebagai bahan pengambilan keputusan. Biasanya perusahaan menyajikan ke-5 jenis laporan keuangan secara lengkap per triwulan untuk perusahaan yang listing di bursa efek atau tahunan bagi perusahaan yang tidak listing di bursa efek.

1. Laporan Posisi Keuangan (Neraca)

Laporan Posisi Keuangan atau yang lebih dikenal dengan istilah Neraca adalah laporan yang menyediakan informasi Aset, Liabilitas, dan Ekuitas dari suatu entitas tertentu pada tanggal tertentu. 

Aset adalah sumber daya ekonomik kini yang dikendalikan oleh entitas sebagai akibat peristiwa masa lalu. Keriteria aset harus memenuhi 3 aspek yaitu hak, potensi untuk menghasilkan manfaat ekonomi, dan pengendalian.
Contoh aset adalah kas dan setara kas, piutang usaha, persediaan, aset tetap, dan aset lainnya. Aset dapat diklasifikasikan kedalam aset lancar dan aset tidak lancar.

Liabilitas adalah kewajiban kini entitas untuk mengalihkan sumber daya ekonomik sebagai akibat peristiwa masa lalu. 3 kriteria yang harus dipenuhi liabilitas adalah : entitas memiliki kewajiban, kewajiban tersebut adalah untuk mengalihkan sumber daya ekonomi, dan  kewajiban tersebut adalah kewajiban kini yang timbul sebagai akibat dari peristiwa masa lalu. Contoh liabilitas adalah utang usaha. 

Ekuitas adalah kepentingan/hak residual dalam aset entitas setelah dikurangi seluruh liabilitas. Ekuitas dapat juga disebut kekayaaan bersih perusahaan. Contoh ekuitas adalah Modal Saham. 

Ilustrasi Laporan Posisi Keuangan (Neraca)


2. Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain

Laporan laba rugi dan penghasilan komprehnsif lain adalah laporan keuangan yang menggambarkan kinerja keuangan suatu entitas. Informasi yang disajikan adalah penghasilan dan beban. Laba rugi menggambarkan kinerja keuangan dari kegiatan utama perusahaan, seperti pendapatan operasional dan beban operasional. Sedangkan penghasilan komprehensif lain adalah penghasilan yang tidak masuk kategori laba rugi seperti surplus revaluasi aset tetap. 

Ilustrasi


3. Laporan Perubahan Ekuitas

Laporan Perubahan Ekuitas merupakan laporan keuangan yang mencerminkan naik turunnya komponen ekuitas pada awal periode dan akhir periode.

Ilustrasi

4. Laporan Arus Kas

Laporan arus kas merupakan laporan keuangan yang menyediakan informasi arus kas yang menjadi dasar bagi pengguna untuk menilai kemampuan entitas dalam menghasilkan kas dan setara kas serta kebutuhan entitas dalam menggunakan kas tersebut. Laporan arus kas diatur pada PSAK 2: Laporan Arus Kas.

Laporan arus kas diklasifikasi kedalam 3 aktivitas yaitu: Operasi, Investasi, dan Pendanaan.

Ilustarasi


5. Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK)

CALK merupakan laporan keuangan yang beiri informasi tambahan atas apa yang disajikan dalam laporan posisi keuangan, laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas. CALK memberikan deskripsi naratif  atau pemisahan pos - pos yang disajikan dalam laporan keuangan tersebut dan informasi mengenai pos-pos yang tidak memenuhi kriteria pengakuan dalam laporan keuangan.

Struktur penyajian CALK adalah:
  1. Informasi Umum Perusahaan, seperti profil dan struktur organisasi
  2. Kebijakan akuntansi penting yang digunakan oleh perusahaan
  3. Rincian pos - pos laporan keuangan
  4. informasi lainnya yang relevan dengan penyajian keuangan 


Semoga bermanfaat !

Konsultasikan Seputar Pelaporan Keuangan Perusahaan Anda DISINI

Makna Takwa

Makna Takwa

GUSTANI.ID - Takwa pada dasarnya berarti menjaga diri dari hal-hal yang dibenci, karena kata taqwa berasal dari kata al-wiqaayah yang berarti penjagaan.

Dikatakan bahwa Umar bin al-Khattab ra pernah bertanya kepada Ubay bin Ka'ab ra mengenai takwa. Lalu Ubay bertanya kepadanya: " Apakah engkau pernah melewati jalan berduri? " Umar menjawab: "Ya". Ubay bertanya lagi: "Lalu apa yang engkau lakukan ?" Umar menjawab: "Aku akan berusaha keras dan bersungguh-sungguh untuk menghindarinya.". Lalu Ubay mengatakan: "Itulah TAKWA."


*tafsir al-Baghawi (1/59), Jaamiul Uluum wal Hikam (1/160) dalam Tafsir Ibnu Katsir

Workshop Akuntansi Syariah untuk Dosen Jurusan Akuntasi Syariah UIN 'Gusdur' Pekalongan

Workshop Akuntansi Syariah untuk Dosen Jurusan Akuntasi Syariah UIN 'Gusdur' Pekalongan

GUSTANI.ID - Kamis, 28 Juli 2022 saya berkesempatan untuk menjadi narasumber dalam agenda Workshop Akuntansi Syariah yang diadakan oleh Jurusan Akuntansi Syariah, FEBI UIN KH Abdurrahman Wahid, Pekalongan. Agenda ini dilaksanakn di Hotel Dafam dan dihadiri oleh dosen-dosen Jurusan Akuntansi Syariah serta dibuka langsung oleh dekan FEBI, ibu Dr. Hj. Shinta Dewi Rismawati, S.H.,M.H.

Foto bersama Dekan FEBI, Ketua Jurusan, dan Dosen Jurusan Akuntansi Syariah UIN Gusdur Pekalongan


UIN KH. Abdurrahman Wahid merupakan hasil transformasi dari IAIN Pekalongan yang baru disahkan melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 86 Tahun 2022 yang ditandatangani oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, tertanggal 8 Juni 2022 lalu. Jurusan Akuntansi Syariah adalah salah satu jurusan dibawah Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEBI) yang dibuka pada tahun 2017 dan telah terakreditasi "B" BAN-PT. 

Agenda Workshop Akuntansi Syariah ini dilaksanakan dalam rangka meningkatkan kapasitas para dosen di bidang akuntansi syariah. Materi yang saya sampaikan dalam workshop tersebut adalah seputar Akuntansi Keuangan Syariah Berdasarkan SAK Syariah: Prospek dan Tantangan. Rivew SAK Syariah dan update terkini, mulai dari KDPPLKS, PSAK 101 - 112. 

Perkembangan industri keuangan dan bisnis syariah di Indonesia menjadi tantangan tersendiri bagi kampus untuk bisa menghadirkan SDM yang unggul, termasuk dibidang Akuntansi Syariah. Kehadiran Prodi/Jurusan Akuntansi Syariah di berbagai kampus saat ini adalah rangka menjawab tantangan tersebut. 

Akuntansi Syariah sebagai salah satu bagian dari rumpun pengetahuan di bidang Akuntansi harus terus dikembangkan baik dari sisi teoritis maupun praktis. Pengembangan dari sisi teoritis akuntansi syariah menjadi domain para pakar akademisi kampus sehingga dapat menghadirkan konsep akuntansi syariah yang bukan hanya sekedar label "syariah" tapi lebih dari itu.  

Dari aspek praktis, Akuntansi Syariah juga harus dapat beradaptasi dengan perkembangan dunia bisnis yang sangat cepat. SAK Syariah sebagai acuan standar akuntansi untuk transaksi syariah pada entitas syariah atau entitas umum kini juga terus update dengan perkembangan standar akuntansi global, seperti IFRS. Sebagai contoh terkait isu pembentukan cadangan penurunan nilai instrumen keuangan yang kini sudah beralih dari PSAK 55 ke PSAK 71, SAK Syariah juga melakukan penyesuaian dengan akan hadirnya PSAK 113 yang mengatur ketentuan penurunan nilai untuk instrumen keuangan syariah. 

Dosen dituntut untuk dapat berperan aktif dalam pengembangan akuntansi syariah baik dari sisi teoritis dan praktis. 

Semoga bermanfaat !

FIQH RIBA : Pendahuluan dan Pengantar - (1)

FIQH RIBA : Pendahuluan dan Pengantar - (1)

GUSTANI.ID - Tulisan berikut adalah terjemahan dari Kitab "Fi Fiqh al-Muamalat al-Maliyah al-Mashrifiyah al-Mu'ahirah: Qiraah Jadidah,  Karya: Dr. Nazih Hammad, yang dijadikan bahan Pengajian kitab kuning muamalah maaliyah kontemporer oleh DSN-MUI Institute setiap hari Jumat pukul 05.30 - 07.00 (info selanjutnya KLIK SINI). Berikut ini adalah terjemahan bahsul awwal tentang Pemahaman Riba secara Istilah dari Segi Dalil An-Nusus dan Klasifikasinya Menurut Para Ahli Fiqih -"al mafhum al istilahi li riba baina dilalat an nusus wa taqsimiha al fuqoha". Kitab asli dapat didownload DISINI.

DAFTAR ISI

Pendahuluan

Kata Pengantar

Pembahasan 1: pengertian hukum riba

Masalah pertama : Makna Riba Secara Khusus

       A. Riba An-nasi'ah

       B. Riba Al-Buyu' (jual beli)

Masalah kedua : Makna Riba Secara Umum

Pembahasan 2: Klasifikasi Riba Dalam  Istilah Ilmu Fiqih


PENDAHULUAN

Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam, Dan sehat sejahtera bagi orang bertaqwa, dan Sholawat serta salam kepada Pembawa Risalah Terakhir, Nabi kita Muhammad, Yang Diutus Sebagai Rohmat untuk semesta dan kepada keluarga-nya para sahabat-nya dan orang yang berdakwah dengan seruan-nya sampai hari akhir.

Adapun setelahnya: maka ini adalah sebuah pembahasan keilmuan yang ringkas dan menyeluruh, disusun dengan gaya yang mudah dan halus, dengan ungkapan atau frasa yang sangat jelas, terdapat investigasi dan penyesuaian Dalil Hukum untuk Riba, yang mengutip pengertian, perkataan, dan peng-klasifikasi-an tentang riba dari para ulama Fiqh dari macam macam Riba dan klasifikasinya. Dan itu semua atas dasar Nash(teks) Al-Qur'an dan As-Sunnah, juga atas dasar ijtihad para ahli ilmu. Dengan ketelitian pemahaman para ulama, dalamnya pemikirannya juga pandangannya. Beserta penjelasan terkait dengan aturan hukum secara menyeluruh dan hukum luar biasa(pengecualian) yang diambil dari sumber hukum Asli.

Dan sangat diharapkan studi metodologis ini tidak kurang dari 5 Manfaat yang telah diperingatkan Al Imam Al Khozin dalam pendahuluan di Kitab Tafsirnya(Li Bab At-Ta'wiili FII Ma'anii At-Tanziili), sangat penting terkandungnya 5 perkara manfaat dalam setiap pembahasan/penelitian ini. Seperti yang dikatakan:

وينبغي لكل مؤلف كتاب في فن قد سبق إليه أن لايخلو كتابه من خمس فوائد : استنباط شيء إن كان معضلا، أو جمعه إن كان متفرقا، أو شرحه إن كان غامضا، أو حسن نظم و تأليف، أو إسقاط حشو و وتطويل. 

Yang artinya: seharusnya bagi setiap pengarang kitab memiliki teknik sehingga menjadikan kitabnya tidak kurang/kehilangan salah satu dari 5 perkara manfaat: 

  1. Mengambil pelajaran dan menyimpulkan sesuatu jika terdapat masalah
  2. Mengumpulkan hal jika hal itu berserakan
  3. Menjelaskan hal jika hal itu tidak diketahui
  4. Baik dalam penyusunan dan perangkaian
  5. Hindari/kurangi penjelasan yang panjang dan bertele tele

Dan di kesimpulan aku berkata dengan apa yang dikatakan Al-Imam Al-Khitobi di muqoddimah kitabnya (Ghoriib Al-Hadits (1/49))

فأما سائر ما نتكلمنا عليه مما استدركناه بمبلغ أفهامنا وأخذناه عن أمثالنا، فإنّا أحقّاء بأن لا نزكيه، وأن لا نؤكد الثقة به، وكل من عثر منه على حرف أو معنى يجب تغييره، فنحن نناشده الله في إصلاحه وأداء حقّ النصيحة فيه، فإنّ الإنسان ضعيف لا يسلم من الخطأ إلا أن يعصمه الله ب توفيقه، ونحن نسأل الله ذلك، ونرغب إليه في دركه، إنه جواد وهوب.

Artinya: maka setiap yang telah kita bicarakan dari yang telah kita perbaiki dengan batas pemahaman kami. Dan kami mengambil nya dari orang yang menjadi panutan kami. Maka kami berhak untuk tidak mensucikannya, dan berhak pula untuk tidak memberi kepercayaan berlebih. Dan siapapun yang menemukan kesalahan kata dan makna wajib baginya untuk merubahnya, maka kami memohon kepada Allah untuk memperbaikinya dan memberikan hak nasihat didalamnya, maka sesungguhnya manusia adalah makhluk lemah yang tidak selamat dari kesalahan kecuali Allah mengampuninya dan memberi taufik-Nya, dan kami menginginkan untuk mencapai pengetahuan atasnya. Sesungguhnya itu hal yang sulit lagi keras.


KATA PENGANTAR

Sesungguhnya pemahaman riba secara istilah dalam Islam dan hal yang terkait dengan Hukum dan penjelasannya, serta pembahasan-pembahasan dan klasifikasi-klasifikasi, dalih dan petunjuknya kesepakatan dan perbedaan pandangan dari ahli ilmu. Adalah urusan Fiqh yang rinci,sulit,sukar jika telah berjalan studi analisis tentang semua di atas maka kamu akan mengukur kedalamannya, dengan melihatnya secara menyeluruh maka akan tampak batasan-batasan dan petunjuk-petunjuknya, dan dapat menyelesaikan masalahnya, dan itu adalah fakta yang tidak dapat disombongkan oleh para Alim yang bijaksana, yang pandangannya melampaui batasan-batasan yang dangkal, dan memasuki urusan/perkara yang dalam.

Dan Ahli Fiqh kontemporer telah menunjukan hal tersebut dengan berkata “(Tidak ada masalah kenegaraan(furu)(sipil) dalam Hukum Islam , yang terjadi perselisihan dan keraguan di dalamnya sejak abad pertama. Kemudian masih meningkat bentuk-bentuk dan kompleksifitas dengan banyaknya pembahasan para ulama yang berbeda pandangan, kecuali masalah riba, riba serupa dengan masalah Aqidah)”.

Namun telah terjadi penafian terhadap hal di atas dari sebagian para Ahli Fiqh, Ibnu Katsir berkata : “(Bab riba adalah yang paling bermasalah (rumit) bagi kebanyakan para Ahli Ilmu)” dan syatibi pun berkata “tentang perkara riba Al-Buyu’  “(Sesungguhnya hal itu adalah sudut pandang yang tersembunyi bagi para Ahli ijtihad, dan salah satu perkara yang paling samar yang belum jelas maknanya sampai hari ini)” dan berkata Al-Azz Bin Abdu As-Salam “(dan suatu keharusan yang mendesak untuk menjadikan Riba Al-Buyu’ sebagian dari dosa besar)”. Saya tidak berpihak atas hal seperti itu. Maka sesungguhnya bentuk dari Riba Al-Buyu’ adalah sesuatu yang dapat di makan/Nilai dari sesuatu yang dapat dihitung , hal tersebut tidak menjadi keperluan yang mendesak, Riba menjadi sebagian dosa besar karena hal itu. Dan tidak sah menjadikan Riba Fadl dan Riba An-Nasi’ alasan untuk menjadikan Riba Al-Buyu’ salah satu dosa besar. Maka sesungguhnya siapa yang menjual 1000 DINAR dengan 1 Dirham SAH jual belinya, dan barang siapa menjual 1 karung/bal selai gandum (yang belum dikupas) dengan 1 karung/bal biji gandum (yang sudah dikupas), atau menjual 1 mud (hitungan liter) selai gandum dengan 1000 mud (hitungan liter) biji gandum, atau menjual 1 mud dari biji gandum dengan semisalnya, atau menjual 1 dinar dengan semisalnya, atau 1 dirham dengan semisalnya dengan menunda pembayarannya maka sesungguhnya jual belinya tidak sah (Rusak), bersama dengan itu di dalam gambaran ini tidak mengisyaratkan makna yang timbul/jelas dan disandarkan padanya. 

Dan berkata Al-Bujiromi dalam catatan kaki (komentar) atas penjelasan Al-Khotib (orang yang berbicara) terkait perkataan As-Syarikh (orang yang menjelaskan) bahwasanya Riba adalah sebagian dari dosa besar : “(adalah dari sebagian dosa yang paling besar)”. Dan disandarkan bahwa itu adalah dosa paling besar dari dosa besar lainya : bersekutu dengan Allah, lalu membunuh, zina, kemudian mencuri, kemudian minum khomr, lalu Riba dan gasab (mengambil hak orang lain tanpa bersembunyi lagi mengancam)”.

Yang dikomentari:
Dan bentuk Riba menjadi salah satu dosa besar nampak pada sebagian klasifikasinya yaitu Riba Az-Ziyadah, adapun Ar-Riba dalam penundaan (penukarannya) tanpa penambahan (tambahan) (Az-Ziyadah) di salah satu alat tukar, jelas itu adalah dosa kecil karena tidak terdapat tujuannya, maka itu adalah akad yang rusak, dan telah jelas bahwa akad yang rusak adalah bagian dari dosa kecil.

Dan hal tersebut tidak mengejutkan, telah diriwayatkan dari Bukhori, Muslim, Abu Daud, dan Nasa’i dari Umar bin Khattab berkata : 3 hal yang aku senangi, ketika Rasulullah meminta kami berjanji untuk : 3 hal : Al-Jadd (Hukum waris kakek), Al-Kalalah (Hukum waris yang tidak memiliki siapa-siapa), dan bab-bab dari sekian banyaknya bab tentang Riba”. 

Dan diriwayatkan Abdur Razzaq dalam karangannya dari Umar bin Khattab R.A berkata : Kami meninggalkan 9/10 dari yang halal karena takut akan Riba.

Dan diriwayatkan juga Umar bin Khattab berkata : aku takut telah menambahkan 10 kali lipat dalam masalah Riba khawatir. 

Dan diriwayatkan dari Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Jarir, Ibnu Mundir, dan selainnya dari Umar bin Khattab RA. Bahwasanya dia umar berkata : dari akhir apa yang telah turun adalah ayat Riba, dan Rasulullah SAW terdiam sebelum menafsirkannya, lalu menyerukan tentang Ar-Riba dan Keraguan (Umar mengisyaratkan bahwa ada banyaknya jenis Riba dan ada sebagian dari syubhat yang tidak masuk bagian Riba yang diharamkan Allah).

Dan Ibnu Rusyd (new) ahli hukum telah mengaitkan dengan perkataan umar bin Khattab, bahwa Umar tidak bermaksud bahwa Rasulullah tidak menafsirkan atau tidak menjelaskan  maksud ayat riba, melainkan bermaksud bahwasanya Rasulullah belum mengeneralisasi semua bentuk riba dengan Nash tersebut(dalil Al-Qur'an). 

Hasil yang diketahui bahwa Rasulullah telah banyak men-nash-kan tentang bentuk riba dan apa yang belum di-nash-kan dari bentuk riba. Maka sesungguhnya Rasulullah telah menyempurnakan pengertian Riba melalui bentuk-bentuk dalil syar'i(Al-Qur'an dan Al hadits) dan menjelaskan bentuk bentuk riba. Dan Rasulullah tidak wafat kecuali ia telah menyempurnakan agama Islam, dan setelah menjelaskan apapun yang butuh dijelaskan bagi kaum muslimin. 

وقال تعالى : ....ٱلۡیَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِینَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَیۡكُمۡ نِعۡمَتِی وَرَضِیتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَـٰمَ دِینࣰاۚ فَمَنِ ٱضۡطُرَّ فِی مَخۡمَصَةٍ غَیۡرَ مُتَجَانِفࣲ لِّإِثۡمࣲ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورࣱ رَّحِیمࣱ }
[Surat Al-Ma'idah: 3]

Lalu ahli hukum melanjutkan perkataannya: Dan dari perkataan Umar yang mendukung/menunjukan apa yang telah kita tafsirkan, perkataan Umar bin Khattab RA : 

إنكم تزعمون أنا نعلم أبواب الربا، ولأن أكون أعلمها أحب إلي من أن يكون لي مثل مصر وكورها

Artinya: sesungguhnya kalian mengira kami mengetahui pintu pintu riba, dan jika itu terjadi maka mengetahuinya lebih aku sukai daripada aku memiliki Mesir dan Sekelilingnya.

Bersamaan dengan itu sesungguhnya pintu-pintu riba tidak samar bagi seseorang tertentu, maka Umar Ra mengabarkan bahwasannya bentuk dari banyaknya bentuk riba jelas nyata dalam Nash (Al hadits) Nabi Salallahu alaihi wa salam,  dan bagian yang lain samar Karena tidak ada dalam Nashnya. Dan dia berharap semua bentuk riba menjadi nampak dan jelas, dengan Mengetahuinya melalui hadits Nabi dan tidak kekurangan pengetahuan atas Nash yang menjelaskannya. Dan ketika Allah Azza Wa Jalla  ingin menguji hambanya adalah dengan memecah jalan dari jalan jalan keilmuan lainnya. Menjadikan sebagiannya tampak dan sebagiannya samar, agar yang samar dapat diketahui dengan ijtihad dan pengelihatan terhadap bagian yang jelas. Maka akan didangkat dengan derajat yang tinggi, bagi orang orang yang beriman dan orang orang yang diberi keilmuan.

Dan  syekh At thohiir bin Asyura mendiskusikan tentang perkataan Umar, lalu menyimpulkan dengan perkataan: 

Yang terlihat bagiku bahwasannya Umar tidak bermaksud mengumumkan lafadz Riba, karena Umar telah mendapatkan penjelasan dan penafsirannya, tetapi Umar bermaksud bahwa penerapan hukum riba dalam jual beli yang banyak jenisnya adalah suatu yang samar. Dan Nabi belum men-generalisir hal tersebut dengan Nash.

Dan imam Al mazaari telah mengingatkan tentang Asal problematika dan inti dari Riba. Dan kunci untuk misteri tersebut adalah perkataannya: ini, dalam hukum Islam tidak semua Nash didapati untuk setiap permasalahan. Tapi menyebutkan/menyiratkan sesuatu yang menjadi kunci. Dan para ahli ilmu menjadi wakil untuk mengambil hukum dari kunci tersebut, seperti yang telah dilakukan dalam pengambilan hukum atas 6 hal yang menjadi Riba. Dan hal yang mungkin 6 tersebut menjadi lafadz yang akan diterapkannya hukum riba di segala jenis riba.

Sudah selayaknya saya menjelaskan posisi saya dalam hal ini, bahwasannya aku tidak bermaksud memperinci pendapat dalam Bab Riba, dan tidak menentang madzhab madzhab fiqih dalam Alasan pengambilan Hukum Riba Al buyu'. Dan tidak membahas masalah Ad-dzarooi' (sesuatu yang sejatinya tidak diharamkan, tetapi ditakutkan dengannya akan terjerumus kepada hal yang benar benar haram) dan tidak membahas (الحيل الربوية)( hail ribawiyah* yang dimaksud adalah trik menjalankan riba sehingga tidak terlihat seperti riba namun jika di tela'ah hal itu adalah riba).

Sesungguhnya maksud tujuanku hanya sebatas kebebasan berbicara, menjernihkan sebuah karangan, dan memperjelas petunjuk-petunjuk tentang Istilah Riba dan Kategorinya. Dan petunjuk itu diambil dari Al Qur'an dan Hadits. Dan mencari pemahaman dari Ijtihad para ahli Fiqh, beserta pandangannya. Dan apa yang terkait dengan itu, yang menjadikan kita merealisasikan sebuah keilmuan. Dan diharapkan pembaca mendapat tambahan ilmu didalam pembahasan ini. Pembaca yang memiliki kepedulian atas kitab-kitab tentang pembahasan Riba yang rumit. 


*Diterjemahkan oleh Muhammad Sholehuddin Al Ayyubi (Mahasiswa LIPIA Jakarta)
6 Peluang Karir Lulusan Akuntansi Syariah

6 Peluang Karir Lulusan Akuntansi Syariah

GUSTANI.ID - Semakin pesatnya perkembangan ekonomi syariah di Indonesia menuntut ketersediaan SDM yang mumpuni di bidang Ekonomi Syariah. Perguruan Tinggi, baik Negeri maupun Swasta berlomba-lomba membuka Program Studi rumpun Ekonomi Syariah. Salah satu program studi yang mulai banyak dibuka oleh Perguruan Tinggi adalah Prodi Akuntansi Syariah. Hasil "search" saya di web https://pddikti.kemdikbud.go.id/ setidaknya terdapat 30-an kampus yang membuka prodi akuntansi syariah untuk tingkat Sarjana (S1), dan kemungkinan masih ada beberapa kampus yang tidak terdeteksi di pencarian tersebut.

Ini menarik, sebab tahun 2009 saat saya lulus SMA dan ingin mencari kampus yang membuka prodi Akuntansi Syariah, masih sangat sedikit. Pilihan saya waktu itu hanya 2 kampus membuka prodi Akuntansi Syariah yaitu STEI SEBI dan STEI Tazkia. Saya menyelesaikan S1 di Prodi Akuntansi Syariah STEI SEBI, Depok, pada tahun 2013. Saat ini alhamdulillah sudah banyak pilihan kampus yang membuka prodi Akuntansi Syariah. Seperti prodi Akuntansi Syariah IAIN Syeikh Nurjati Cirebon, tempat saya ngajar. Tanggal 4 Juni 2022 saya juga berkesempatan sharing dengan Mahasiswa Prodi Akuntansi Syariah, FEBI IAIN Palangkaraya. Sharing saya seputar peluang karir lulusan prodi Akuntansi Syariah. 

Sharing dengan Mahasiswa Prodi Akuntansi Syariah IAIN Palangka Raya

Akuntansi Syariah Sebagai Ilmu Pengetahuan

Akuntansi Syariah kini sudah menjadi bidang keilmuan tersendiri dalam rumpun keilmuan akuntansi, sama seperti akuntansi keuangan, auditing, akuntansi manajemen, dan perpajakan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa hal, seperti:

  1. Akuntansi Syariah sudah menjadi mata kuliah tersendiri yang diajarkan di kampus dengan silabus tersendiri
  2. Akuntansi Syariah kini sudah menjadi Program Studi di beberapa kampus yang diakui oleh sistem pendidikan tinggi di Indonesia.
  3. Akuntansi Syariah sudah memiliki Standar Akuntansi Keuangan (SAK) tersendiri yang di keluarkan oleh DSAS-IAI, dan menjadi acuan standar oleh Industri dan Regulator.
  4. Akuntansi Syariah sudah menjadi bidang kajian tersendiri dalam forum-forum ilmiah di bidang Akuntansi, seperti Simposium Nasional Akuntansi (SNA) serta jurnal-jurnal ilmiah. 
  5. Akuntansi Syariah juga sudah memiliki sertifikasi kompetensi tersendiri yang dikeluarkan oleh IAI, yaitu Ujian Sertifikasi Akuntansi Syariah (USAS).
Pengembangan keilmuan di bidang Akuntansi Syariah terus dilakukan oleh para ahli dengan dua pendekatan, yaitu yang bersifat teoritis dan praktis. Pendekatan teoritis mencoba untuk menghadirkan teori-teori akuntansi syariah dengan pendekatan teori-teori islam yang bersumber dari hukum Islam dan dengan teori akuntansi yang sudah berjalan saat ini. Sedangkan pendekatan praktis dilakukan dengan pendekatan islamisasi ilmu pengetahuan akuntansi yang sudah ada. sehingga lebih praktis untuk diterapkan pada lembaga-lembaga berbasis syariah. 

Apa yang dipelajari di Bidang Akuntansi Syariah ?

Kurikulum yang ditawarkan oleh prodi Akuntansi Syariah di beberapa kampus setidaknya mencakup 3 rumpun keilmuan, yaitu rumpun Akuntansi, Umum, dan Syariah. Rumpun Akuntansi berisi mata kuliah bidang Akuntansi, seperti Pengantar Akuntansi, Akuntansi Keuangan, Akuntansi Biaya, Sistem Informasi Akuntansi, Akuntansi Manajemen, Auditing, Perpajakan, dan Akuntansi Syariah. Rumpun Umum berisi matakuliah yang bersifat wajib Perguruan Tinggi atau Fakultas. Sedangkan rumpun Syariah lebih ke mata kuliah terkait Fikih, seperti Ushul Fikih dan Fikih Muamalah. Sehingga lulusan Akuntansi Syariah memiliki basis pengetahuan yang lebih luas.



Peluang Karir Lulusan Akuntansi Syariah

Lulusan prodi Akuntansi Syariah bisa jadi apa ?

Menurut saya peluang karir lulusan akuntansi syariah jauh lebih luas dibanding Lulusan Akuntansi umum maupun lulusan prodi rumpun ekonomi syariah lainnya. Karena lulusan akuntansi syariah dapat berkarir di berbagai bidang dan lembaga baik yang berbasis syariah maupun berbasis umum. Berikut ini adalah peluang karir yang dapat dimanfaatkan oleh lulusan prodi Akuntansi Syariah :

1. Akuntan di Lembaga Keuangan Syariah

Menjadi Akuntan di Lembaga Keuangan Syariah (LKS) adalah pilihan rasional bagi lulusan akuntansi syariah. Lembaga Keuangan Syariah meliputi sektor perbankan syariah, IKNB Syariah, dan pasar modal syariah. Kebutuhan akuntan syariah pada LKS sangat besar mengingat jumlah LKS sangat banyak dan terus bertumbuh dari waktu ke waktu. LKS membutuhkan lulusan Akuntansi Syariah karena secara spesifik transaksi pada LKS berbasis syariah yang membutuhkan perlakuan akuntansi yang harus sesuai dengan prinsip syariah, yaitu SAK Syariah.

2. Akuntan di Lembaga Non-Profit Syariah

Selain lembaga keuangan syariah yang berorientasi profit, lembaga non-profit berbasis syariah juga merupakan sektor yang terus berkembang pesat. Lembaga Non-Profit Syariah terdiri dari Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) dan Lembaga Wakaf. OPZ yang didirikan oleh pemerintah adalah Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) yang ada di tingkat pusat, provinsi, dan kota/kabupaten. Sedangkan OPZ yang didirikan oleh masyarakat adalah Lembaga Amil Zakat (LAZ) baik skala Nasional, Provinsi, dan Kota/kabupaten. Lembaga non-profit syariah juga membutuhkan akuntan syariah yang memiliki kompetensi di bidang akuntansi dan akuntansi syariah terutama menguasai PSAK 109: Akuntansi Zakat dan Infak/Sedekah dan PSAK 112: Akuntansi Wakaf. Ada yang berminat berkarir sebagai akuntan di lembaga non-profit syariah ?

3. Akuntan di Perusahaan Umum

Karir lulusan Akuntansi Syariah tidak terbatas hanya pada lembaga yang berbasis syariah, tapi juga bisa di perusahaan-perusahaan umum yang bergerak di sektor perdagangan, jasa, maupun manufaktur, yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Kompetensi Akuntansi lulusan akuntansi syariah sangat memungkinkan mereka untuk berkarir sebagai akuntan di perusahaan - perusahaan lokal maupun perusahaan level nasional, baik perusahaan swasta maupun perusahaan negara, seperti BUMN atau BUMD. Lulusan akuntansi syariah harus juga menguasai standar akuntansi untuk perusahaan umum, yaitu SAK Internasional dan SAK Indonesia jika ingin berkarir pada perusahaan multinasional, atau menguasai SAK ETAP/SAK EP untuk berkarir di perusahaan skala lokal. Atau SAK EMKM jika ingin berkarir di sektor UMKM.

4. Akuntan Pendidik di Tingkat SMK atau Perguruan Tinggi

Kehadiran lembaga pendidikan yang membuka jurusan ekonomi syariah baik di tingkat SMK maupun Perguruan Tinggi, menuntut banyak kebutuhan akan tenaga pengajar baik sebagai guru maupun dosen di bidang Akuntansi Syariah. Menjadi Akadmisi sebagai guru atau dosen Akuntansi Syariah bisa jadi pilihan anda lulusan akuntansi syariah. Peluang jadi guru dan dosen PNS sangat terbuka lebar. Jika ingin berkair sebagai akademisi, maka setelah menyelesaikan program S1 Akuntansi Syariah, dilanjutkan dengan pendidikan S2 Akuntansi Syariah. Saat ini baru ada 1 kampus yang membuka program magister Akuntansi Syariah yaitu IAI Tazkia, Bogor. Sedangkan yang membuka Konsentrasi Akuntansi Syariah sudah banyak, seperti Magister Akuntansi UNPAD, Bandung. Saya menyelesaikan S2 di MAKSI UNPAD, konstentrasi akuntansi syariah pada tahun 2017.

Kelebihan sebagai akademisi, bisa membuka peluang karir lainnya, seperti menjadi konsultan, Dewan Pengawas Syariah (DPS), Ahli Syariah Pasar Modal (ASPM), trainer, dll.

5. Auditor di KAP

Menjadi Auditor di Kantor Akuntan Publik (KAP) bisa jadi pilihan karir lulusan Akuntan Syariah. Lulusan akuntansi syariah di butuhkan oleh KAP karena memiliki kompetensi di bidang Audit dan Akuntansi Syariah untuk keperluan audit pada klien umum maupun syariah. Jika auditor akan mengaudit entitas syariah, maka auditor yang ditugaskan harus memahami perlakuan akuntansi atas transaksi-transaksi syariah, maka lulusan akuntansi syariah bisa jadi pilihan bagi KAP. Karir profesional sebagai Auditor sangat menjanjikan ke depannya, terlebih Auditor Syariah.

6. Akuntan Berpraktik di KJA

Peluang karir lainnya bagi lulusan akuntansi syariah adalah sebagai akuntan berpraktik di Kantor Jasa Akuntansi (KJA). KJA menyediakan jasa akuntansi bagi dunia usaha. Karir ini dapat ditempuh dengan mengambil pendidikan profesi akuntansi (Ak) lalu mengikuti sertifikasi profesi Chartered Accountant (CA). 

Raih Gelar Profesi Akuntansi 

Untuk berkarir secara profesional di bidang Akuntansi Syariah maka harus terus meningkatkan kompetensi. Tentukan Kompetensi Akuntansi yang akan anda pilih, dengan mengikuti sertifikasi profesi di bidang Akuntansi, seperti :
  1. Ujian Chartered Accountant (CA) untuk memperoleh gelar CA dari IAI
  2. Ujian Sertifikasi Akuntansi Syariah (USAS) untuk memperoleh gelar SAS dari IAI
  3. Ujian Sertifikasi PSAK (US-PSAK) untuk memperoleh gelar CPSAK dari IAI
  4. Ujian Profesi Akuntan Publik (UPAP) untuk memperoleh gelar A-CPA dan CPA dari IAPI
  5. Ujian Certified Professional Management Accountant (Ujian CPMA) untuk memperoleh gelar CMA dari IAMI
Gelar profesi dibidang akuntansi menunjukan level kompetensi kita di bidang akuntansi. Saran saya bagi lulusan akuntansi syariah untuk mempersiapkan diri mengambil gelar profesi akuntansi tersebut. Saya memperoleh gelar SAS pada tahun 2017 dari IAI. Sedangkan di Bidang Syariah lulusan akuntansi syariah minimal harus menguasai Fatwa DSN-MUI. 

Asah Softskill

Selain terus meningkatkan kemampuan hardskill, seorang akuntan syariah juga meski mengasah kemampuan softskill. Larry Harrington  - Chief Audit Executive Raytheon Company mengatakan :

  “Soft skills are the new  hard skills...”

Kesuksesan karir sangat ditentukan oleh kemampuan yang seimbang antara hardskill dan softskill. Apa saja softskill yang harus diasah oleh seorang akuntan syariah agar sukses dalam karirnya ? berikut ini diantaranya:
  1. Integrity
  2. Relationship Building
  3. Partnering
  4. Communication
  5. Teamwork
  6. Diversity
  7. Continuous Learning
7 Softskill ini dapat mulai diasah sejak masih di bangku kuliah, salah satunya dengan berorganisasi. Manfaatkan organisasi kampus untuk mengasah softskill anda.

Demikian lah beberapa peluang karir yang bisa anda tempuh sebagai lulusan akuntansi syariah, dan tidak terbatas pada 6 peluang tersebut semata, masih banyak peluang karir lainnya yang bisa anda tekuni. Yang terpenting adalah karir kita memberikan banyak manfaat bagi banyak orang. Semoga bermanfaat ! Terus tingkat kompetensi anda !

PRODUK & JASA

KOLOM SYARIAH

KEISLAMAN

SERBA SERBI

AKTIVITAS PELATIHAN

AUDITING

AKUNTANSI SYARIAH

SEPUTAR AKUNTANSI