Syiar Bulan Maulid: Menjadi umat yang dirindukan Rasulullah

Syiar Bulan Maulid: Menjadi umat yang dirindukan Rasulullah



GUSTANI.ID - Dalam sebuah riwayat diceritakan suatu hari, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tengah duduk bersama para sahabat. Ada Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali bin Abi Thalib, dan beberapa sahabat lainnya. Sejurus kemudian Rasulullah bertanya pada para sahabat yang duduk mengelilingi beliau, “Wahai sahabatku, tahukah kalian siapa hamba Allah yang paling mulia di sisi-Nya?”

Setelah terdiam sejenak, seorang sahabat berkata menjawab, “Para Malaikat ya Rasulullah, merekalah yang mulia.” Rasulullah menjawab: “Ya, para Malaikat itu mulia, mereka senantiasa bertasbih dan beribadah kepada Allah, tetapi bukan itu yang kumaksud.”

Semua terdiam. Lalu, seorang sahabat berkata: “Ya Rasulullah, tentu para nabi.”

Rasulullah tersenyum, lalu b.erkata, “Ya, para nabi itu mulia, mereka adalah utusan Allah. Mereka itu mulia. Tetapi ada lagi yang lain.”

Lagi-lagi para sahabat terdiam. Lalu salah seorang sahabat berkata :”Apakah kami sahabatmu yang mulia itu? ”

Kembali Rasulullah tersenyum, lalu berkata, “Tentulah kalian mulia. Kalian dekat denganku. Kalian membantu perjuanganku. Tetapi bukan itu maksudku.”

Para sahabat terdiam, mereka tidak mampu berkata apa-apa lagi. Rasulullah pun menundukkan wajahnya, air matanya membasahi kedua pipinya. Para sahabat bertanya, “Mengapa engkau menangis ya Rasulullah?”

Perlahan-lahan Rasulullah mengangkat wajahnya, terlihat air matanya berlinang membasahi pipi dan janggutnya. Lalu beliau berkata : “Wahai sahabatku, tahukah kalian siapa yang mulia itu? Mereka adalah manusia-manusia yang lahir jauh setelah wafatku nanti. Mereka begitu mencintai Allah. Tahukah kalian, mereka itu tak pernah memandangku. Mereka tidak pernah melihat wajahku. Mereka hidup tidak dekat dengan aku seperti kalian. Tetapi mereka begitu rindu kepadaku. Dan saksikanlah wahai para sahabatku semuanya, akupun rindu kepada mereka. Mereka yang mulia itu, mereka itulah ummatku.” Usai mengucapkan itu, Rasulullah meneteskan air matanya kembali. Dan para sahabatpun ikut menangis dalam suasana haru.

Akan kah kita termasuk umat nabi Muhammad yang mulia tersebut ?

Bulan Rabiul awal ini hendaknya kita jadi sebagai momentum untuk menumbuhkan kembali semangat cinta kepada Rasulullah SAW. Rabiulawal yang merupakan bulan ketiga dari kalender Hijriyah adalah bulan yang istimewa bagi umat Islam. Pada bulan itu telah lahir manusia paling agung, pemimpin para nabi dan rasul, yaitu Nabi Muhammad saw. Para ulama sepakat, beliau dilahirkan pada hari Senin (Muslim, No. 1162) pada Tahun Gajah dan menurut pendapat yang masyhur, Rasulullah saw. dilahirkan pada tanggal 12 Rabiulawal. Itu sebabnya, sebagian umat Islam menamakan bulan ini sebagai Bulan Maulid. Pada bulan ini, Rasulullah saw. sampai di Madinah dari perjalanan hijrahnya dan pada bulan ini pula beliau wafat. Maka, sangat baik jika bulan ini dijadikan sebagai momen agar umat Islam lebih dekat dengan nabinya dengan mengenal dan mempelajari sirah nabi yang agung dan menjadikannya sebagai teladan, meskipun seharusnya hal itu dilakukan pada setiap waktu.

Berikut ini beberapa hal yang mesti kita kuatkan agar kecintakan kita kepada Rasulullah SAW semakin tertanam kuat dalam hati, ucapakn, dan tindakan kita.

1. Toleransi atas perbedaan 'urf di bulan maulid

Bertoleransi dengan berlapang dada dan bertutur kata yang baik terhadap perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang peringatan Maulid Nabi saw. Terjadinya perbedaan pendapat itu menunjukkan bahwa ia merupakan persoalan furuk (cabang) di dalam agama. Para ulama menegaskan bahwa tidak boleh saling mengingkari dalam perkara furuk yang masih diperselisihkan, pengingkaran hanyalah pada perkara yang menyelisihi sudah ijma’. (An-Nawawi, (1392), Syarh Shahih Muslim, 2/23) dan bukanlah termasuk wilayah inkarul munkar. Kaidahnya berbunyi: la inkara fi masaili al-ijtihadi (nahi mungkar tidak berlaku dalam persoalan ijtihadi) (Al-Kanani, (2013), Al-Fawaid: 354). Maka dalam hal ini berlaku kaidah emas: “Kita saling membantu dalam persoalan yang disepakati dan saling toleran ketika berbeda pendapat.” (Rasyid Ridha, (1358), Al-Manar: 35)

2. Kenali dan Cintai Rasulullah SAW

Mempelajari kehidupan Rasulullah saw. untuk menumbuhkan rasa cinta kepadanya dengan membaca buku-buku sirah dan mengikuti berbagai kajian tentangnya. Di antara buku-buku yang penting untuk dibaca adalah Asy-Syamailul Muhammadiyah karya Imam At-Tirmidzi, Nurul Yaqin karya Syekh Muhammad al-Khudhari Bek, Ar-Rahiq Al-Makhtum karya Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, Fiqhus Sirah karya Syekh Muhammad Al-Ghazali, dan Fiqhus Sirah An-Nabawiyah karya Syekh Said Ramadan Al-Buthi. Kecintaan kepada Nabi saw. sangat penting karena menjadi ukuran kesempurnaan iman dan harapan mendapatkan surga. Abdullah bin Hisyam berkata:

Kami bersama Rasulullah saw. Ketika itu, beliau memegang tangan Umar bin Khattab. Lalu Umar berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku sendiri.” Rasulullah saw. bersabda, “Tidak, demi (Allah) yang jiwaku ada di dalam genggaman tangan-Nya, (imanmu belum sempurna) hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Lalu, Umar berkata, “Sekarang, demi Allah, engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Rasulullah saw. bersabda, “Sekarang wahai Umar, (imanmu telah sempurna)” (HR Bukhari No.6632)

3. Teladani

Berupaya meneladani Rasulullah saw. pada semua aspek kehidupan yang pernah dilaluinya baik dalam urusan ibadah, keluarga, mu’amalah maaliyah (seperti utang piutang, jual beli, pinjam meminjam, dan lainnya), akhlak, bekerja, bertetangga, bermasyarakat, dan sosial-politik, sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah dan mendapatkan cinta-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ


Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.

Al-Aḥzāb [33]:21

4. Menghidupkan Sunnah

Menghidupkan sunah Nabi saw. dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari, apalagi di tengah kondisi akhir zaman yang penuh fitnah dan perpecahan. Hal ini memiliki keutamaan yang sangat agung, sebagaimana hadits Abu Tsa’labah al-Khusyani bahwa Rasulullah saw bersabda:

“... Sesungguhnya di belakang kalian akan ada suatu masa di mana kesabaran saat itu laksana memegang bara api, orang yang beramal saat itu sama seperti pahala limapuluh orang yang melakukan seperti amalan kalian." Abdullah bin Al Mubarak berkata, “Selain riwayat 'Utbah ada tambahan bagiku”: Dikatakan, "Wahai Rasulullah, pahala limapuluh orang dari kami atau dari mereka?" Beliau menjawab, "Bahkan pahala limapuluh orang dari kalian." (At-Tirmidzi, No. 3058, Bab Min Suratil Maidah, Abu Isa (At-Tirmidzi) berkata: hasan)

5. Membela Rasulullah

Membela Rasulullah saw dari berbagai tuduhan, fitnah, dan celaan dengan cara yang ilmiah, cerdas, dan santun. 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اَلَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الرَّسُوْلَ النَّبِيَّ الْاُمِّيَّ الَّذِيْ يَجِدُوْنَهٗ مَكْتُوْبًا عِنْدَهُمْ فِى التَّوْرٰىةِ وَالْاِنْجِيْلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهٰىهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبٰۤىِٕثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ اِصْرَهُمْ وَالْاَغْلٰلَ الَّتِيْ كَانَتْ عَلَيْهِمْۗ فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِهٖ وَعَزَّرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ وَاتَّبَعُوا النُّوْرَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ مَعَهٗٓ  ۙاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ࣖ


(Yaitu,) orang-orang yang mengikuti Rasul (Muhammad), Nabi yang ummi (tidak pandai baca tulis) yang (namanya) mereka temukan tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka. Dia menyuruh mereka pada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, menghalalkan segala yang baik bagi mereka, mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan beban-beban serta belenggu-belenggu yang ada pada mereka.288) Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya terang yang diturunkan bersamanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang beruntung.

Al-A‘rāf [7]:157

6. Perbanyak Shalawat

Memperbanyak bacaan shalawat kepadanya, baik shalawat mutlak (tidak terkait situasi tertentu) maupun shalawat muqayyad (terkait kondisi tertentu).

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ  يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا 

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi.620) Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.621)

Al-Aḥzāb [33]:56


Demikianlah beberapa hal yang perlu kita lakukan di bulan Rabiul awal ini, semoga kita termasuk umat Rasulullah yang senantiasa merindukan dan dirindukan oleh Rasulullah SAW hingga kita kelak akan mendapatkan syafaatnya. AMIIN.

Akuntansi Kredit/Pembiayaan versi SAK Entitas Privat: Pelatihan untuk BPR Wilayah Jawa Timur

Akuntansi Kredit/Pembiayaan versi SAK Entitas Privat: Pelatihan untuk BPR Wilayah Jawa Timur

GUSTANI.ID - Tanggal 28 - 29 Agustus 2023 saya berkesempatan menjadi narasumber dalam Pelatihan SAK Entitas Privat untuk BPR - BPR di Wilayah Jawa Timur yang diadakan oleh PT Inti Sistim Sarana Sejahtera. Pelatihan dilaksanakan di Surya Hotel & Cottages Prigen, Pasuruan, Jawa Timur. 


Isu penerapan SAK Entitas Privat (SAK EP) saat ini memang sedang hangat - hangatnya karena akan menggantikan SAK ETAP per 25 Januari 2025. Salah satu entitas yang akan terdampak signifikan adalah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) atau Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS). BPR berdasarkan Pedoman Akuntansi BPR yang dikeluarkan oleh BI pada tahun 2010 mengacu pada SAK ETAP, sedangkan BPRS melalui PAPSI BPRS tahun 2015 yang diterbitkan OJK juga mengacu pada SAK ETAP. 

Dengan digantinya SAK ETAP ke SAK EP, maka acuan pedoman akuntansi untuk BPR/BPRS akan berubah. Saat ini OJK belum mengeluarkan pedoman akuntansi untuk BPR/BPRS yang mengacu pada SAK EP. 

Dampak Penerapan SAK EP pada BPR/BPRS

Perubahan signifikan perlakuan akuntansi BPR/BPRS dari SAK ETAP ke SAK EP terdapat pada transaksi Kredit atau pembiayaan yang diberikan. Pada SAK ETAP tidak dibahas secara spesifik perlakuan akuntansi kredit/pembiayaan yang diberikan, dimana pada SAK ETAP tidak ada bab yang membahas instrumen keuangan. Secara teknis perlakuan akuntansi kredit/pembiayaan yang diberikan dibahas pada PA BPR/PAPSI BPRS. Sedangkan di SAK EP terdapat 1 bab khusus yang membahas Instrumen Keuangan, yaitu Bab 11. 

Bab 11: Instrumen Keuangan Dasar mengatur perlakuan akuntansi untuk aset keuangan dan liabilitas keuangan. Perlakuan akuntansi instrumen keuangan pada SAK EP mirip dengan perlakuan akuntansi pada PSAK 55: Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran. Sehingga pada par 11.2 SAk EP mamberikan pilihan kebijakan akuntansi untuk instrumen keuangan dapat mengacu pada SAK EP bab 11 atau PSAK 55.

Kredit/Pembiayaan yang diberikan termasuk jenis aset keuangan yang dalam SAK EP Bab 11 mensyaratkan menggunakan model biaya perolehan diamortisasi menggunakan suku bunga efektif. Selain pada aspek pengakuan dan pengukuran, perbedaan signifikan lainnya adalah terkait metode perhitungan penurunan nilai kredit/pembiayaan yang akan menggunakan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) yang dapat menggunakan pendekatan kolektif atau individual. 






DISKUSI SEPUTAR SAK ENTITAS PRIVAT PADA BPR/BPRS ATAU KOPERASI SERTA KEBUTUHAN CORE BANKING SYSTEM (CBS) HUBUNGI SAYA DI 082357909050

PRODUK & JASA

KOLOM SYARIAH

KEISLAMAN

SERBA SERBI

AKTIVITAS PELATIHAN

AUDITING

AKUNTANSI SYARIAH

SEPUTAR AKUNTANSI