4 Golongan Manusia Berdasarkan Harta dan Ilmunya


GUSTANI.ID - Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadist yang menggambarkan golongan manusia menurut harta dan ilmu yang dimilikinya.   

إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ: عَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيْهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيْهِ رَحِـمَهُ وَيَعْلَمُ ِللهِ فِيْهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْـمَنَازِلِ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ عِلْمًا وَلَـمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّـيَّـةِ يَقُوْلُ: لَوْ أَنَّ لِـيْ مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلاَنٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُـمَا سَوَاءٌ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَلَـمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًـا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيْهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ فِيْهِ رَحِـمَهُ وَلَا يَعْلَمُ ِللهِ فِيْهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْـمَنَازِلِ وَعَبْدٍ لَـمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالًا وَلَا عِلْمًـا فَهُوَ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِـيْ مَالًا لَعَمِلْتُ فِيْهِ بِعَمَلِ فُلاَنٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُـمَا سَوَاءٌ

“…..Sesungguhnya dunia diberikan untuk empat orang: 

  1. Seorang hamba yang Allah berikan ilmu dan harta, kemudian dia bertaqwa kepada Allah dalam hartanya, dengannya ia menyambung silaturahmi, dan mengetahui hak Allah di dalamnya. Orang tersebut kedudukannya paling baik (di sisi Allah). 
  2. Seorang hamba yang Allah berikan ilmu namun tidak diberikan harta, dengan niatnya yang jujur ia berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta, aku pasti mengerjakan seperti apa yang dikerjakan Si Fulan.’ Ia dengan niatnya itu, maka pahala keduanya sama. 
  3. Seorang hamba yang Allah berikan harta namun tidak diberikan ilmu. Lalu ia tidak dapat mengatur hartanya, tidak bertaqwa kepada Allah dalam hartanya, tidak menyambung silaturahmi dengannya, dan tidak mengetahui hak Allah di dalamnya. Kedudukan orang tersebut adalah yang paling jelek (di sisi Allah). Dan 
  4. Seorang hamba yang tidak Allah berikan harta tidak juga ilmu, ia berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta, aku pasti mengerjakan seperti apa yang dikerjakan Si Fulan.’ Ia berniat seperti itu dan keduanya sama dalam mendapatkan dosa.” 
[Ahmad (IV/230-231), at-Tirmidzi (no. 2325), dan Ibnu Majah (no. 4228)

Dalam sejarah kita mendapatkan kisah seseorang yang diberikan karunia harta dan ilmu, seperti sahabat Ustman bin Affan ra yang membelanjakan hartanya di jalan Allah. Menjadi kaya lagi berilmu adalah karunia yang besar bagi seorang muslim. 

Beberapa hadist Rasulullah SAW tentang keutamaan harta ditangan orang yang berilmu:

نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ

“.....sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh hamba yang Shalih.” (HR. Ahmad)

لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ

“Tidak apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan bahagia itu bagian dari kenikmatan.” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad 4/69. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim no. 1054)


Dalam sebuah postingan halaman FB Pendidikan Kreatif ada sebuah gambar ilustrasi yang cukup menggelitik yang menggambarkan hal yang sama dengan hadist di atas. 4 tipe orang berdasarkan ilmu dan penghasilannya.  


  1. Orang yang memiliki banyak uang tetapi tidak memiliki pendidikan tidak akan pernah menikmati pemandangan meskipun merasa hebat.
  2. Orang yang hanya memiliki pengetahuan tetapi tidak menghasilkan, hanya melihat sedikit pemandangan.
  3. Orang yang memiliki pengetahuan dan sekaligus menghasilkan, memiliki panorama terbaik.
  4. Orang yang tidak peduli untuk mengetahui dan tidak menghasilkan, tidak akan pernah melihat apapun untuk dilihatnya. 
Menjadi Disiplin, memiliki maksud dan tujuan yang bermanfaat bagi kita di masa depan, menimba ilmu... tapi di atas segalanya, menjadi orang BAIK: itulah kunci untuk melihat bentang alam yang seutuhnya. 

Benarkah Bank Syariah Mahal ?

GUSTANI.ID - Beberapa waktu lalu dai kondang Ust Yusuf mansur melontarkan sentilan untuk bank syariah, terutama Bank Syariah Indonesia (BSI), yang dinilai masih mahal dalam penyaluran pembiayaan kepada nasabah. 

"Ini baru permulaan, saya mau buka mahalnya pembiayaan dibandingkan konvensional, biar masyarakat melek," ungkap Ust Yususf Mansur lewat Twitnya.

Tapi benarkah bank syariah mahal ? Berikut penjelasanaya

Pertama : Mahal = gak Syariah ?

Urusan mahal dan murah harga transaksi tidak ada kaitanya dengan pemenuhan prinsip syariah. Sebab syariah tidak memberikan batasan tertentu terkait harga. Harga murni muncul karena hukum pasar; hukum penawaran dan permintaan. Harga dilandasi oleh kesepakatan antara pihak yang bertransaksi dengan dasar saling ridho yang ditunjukan dengan Ijab Qabul baik lisan atau tertulis. 

Bahkan Rasulullah SAW sendiri menolak menetapkan harga saat diminta oleh para sahabat, kecuali dalam kondisi tertentu.

Dari Anas Bin Malik ra : "Suatu ketika terjadi krisis di zaman Rasulullah ﷺ, kemudian para sahabat meminta kepada beliau menetapkan harga² barang: "Andaikan tuan mahu menetapkan harga barang?" Beliau menjawab: Sesungguhnya Allah swt Dzat Yang Maha Mengendalikan, Maha membeber, Maha Pemberi Rizki dan Maha Penentu Harga. Sesungguhnya tiada suatu pengharapan pun jika Allah ﷻ sudah mentakdirkan, maka jangan ada seorang pun yang memintaku untuk melakukan suatu kedhaliman yang aku perbuat atas diri seseorang terhadap darah dan juga hartanya.” (HR Imam lima selain al-Nasai. Dishahihkan oleh al Tirmidzy)

Kedua : Skala usaha Bank Syariah VS Bank Konvensional

Urusan murah dan mahal sangat berkaitan dengan skala usaha. Skala usaha besar akan mudah menetapkan harga murah dibanding dengan usaha yang skala usahanya masih kecil. Begitu juga dengan kasus bank syariah vs bank konvensional. Saat ini skala usaha bank syariah masih dibawah bank konvensional. 

Berikut datanya : Tahun 2012 rata-rata aset 5 bank syariah terbesar Rp 24,6 triliun. sedangkan Total aset seluruh bank syariah Rp 195 triliun. Bandingkan dengan satu bank konvensional aja, di tahun yang sama aset Bank BCA Rp 436 triliun atau 8 kali lipat dari rata-rata 5 aset bank syariah terbesar dan 2,2 kali lipat dibanding seluruh aset bank syariah. WOW.

Jadi gak heran kalau harga margin pembiayaan bank syariah lebih mahal dari bunga kredit bank konvensional. Tapi ini perbandingan dengan bank konvensional besar, tapi coba bandingkan dengan bank konvensional yang skalanya sama, harganya akan sangat kompetitif.

Data per tahun 2020, bank syariah secara perlahan sudah mulai bisa mengimbangi bank konvensional. Rata-rata aset 5 bank syariah terbesar sudah mencapai Rp 67 triliun, aset bank syariah terbesar mencapai Rp 126 triliun, dengan total aset bank syariah mencapai Rp 593 triliun. Dibanding bank BCA dengan aset Rp 1.056 triliun. Perbandinganya 4,4 kali lipat dari bank syariah terbesar atau kurang dari 2 kali lipat dari total aset bank syariah. 

Dampaknya skala usaha bank syariah yang sudah meningkat mampu memberikan harga (pricing) pembiayaan yang bersaing.

Ketiga : Cost of Fund

Cost of Fund itu adalah biaya yang dikeluarkan oleh bank untuk menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan, baik dalam bentuk Giro, Tabungan, atau Deposito. Biaya itu disebut Bagi Hasil kalau di bank syariah, sedangkan di bank konvensional disebut Bunga. Nah biaya yang dikeluarkan oleh bank syairah untuk bagi hasil simpanan jauh lebih tinggi dari bungan simpanan yang dikeluarkan bank konvensional. 

Tahun 2012 Cosf of Fund bank syairah mencapai 7% sedangkan BCA hanya 2,1%. Tahun 2020 gap nya mengecil 2,8% dibanding 1,4%. Cost of Fund tinggi dampaknya harga penyalurannya pun akan mahal.

Bank konvensional bisa jual murah sebenarnya karena ente-ente pada nabung cuma-cuma di bank konven, apa lagi ada yang nabung tapi ga mau ambil bunganya. Enak banget bank konvensional ga usah ngeluarin biaya tuk dapat modal. 

Keempat : Tapi Gak Semua Produk bank Syariah Lebih Mahal

Untuk produk pembiayaan jangka panjang atau pembiayaan korporasi, harga bank syariah sudah bisa bersaing bahkan bisa lebih rendah. Contoh harga pembiayaan KPR bank syariah bisa 5% fixed lebih murah dibandingkan KPR bank konvensional. 

Bahkan BSI berani klaim suku bunga KPR BSI lebih rendah dibanding bank lain mana pun, cek DISINI beritanya. 


So..!! MURAH dan MAHAL itu relatif sebenarnya 😉

Wallahua'lam. 

Pelatihan Akuntansi Asuransi Syariah untuk Mahasiswa UIN Banten

GUSTANI.ID - Perusahaan Asuransi Syariah adalah salah satu jenis lembaga keuangan syariah yang masuk dalam sektor IKNB Syariah. Data OJK per Desember 2020 menunjukan market share keuangan syariah di Indonesia sebesar 9,89% dengan nilai aset mencapai Rp 1.802,86 triliun. Sedangkan market share IKNB Syariah sebesar 4,43%, dari jumlah tersebut Aset Perusahaan Asuransi Syariah berkontribusi sebesar Rp 44,44 triliun. 

Tercatat jumlah perusahaan asuransi syariah yang full syariah mencapai 13 perusahaan dan yang berstatus unit syariah dari konvensional mencapai 47 perusahaan yang mencakup Asuransi Jiwa Syariah, Asuransi Umum Syariah, dan Reasuransi Syariah.

Dalam rangka menyiapkan SDM yang memiliki keahlian di bidang Asuransi Syariah, khususnya keahlian bidang Akuntansi Asuransi Syariah, pada tanggal 3 Juni 2021 Jurusan Asuransi Syariah FEBI UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten menyelenggarakan "Pelatihan Keahlian Akuntansi Asuransi Syariah" untuk mahasiswa tingkat akhir. Agenda ini di ikuti oleh 77 Mahasiswa yang diselenggarakan secara tatap muka di Aula Sjadzli Hasan Lantai 2 UIN Banten. 


Saya berkesempatan menjadi narasumber tunggal dalam agenda pelatihan akuntansi asuransi syariah ini selama satu hari full dari jam 08.00 sampai dengan 16.00. Muatan materi yang disampaikan mencakup :

  1. Prinsip dasar Asuransi Syariah
  2. Operasional Asuransi Syariah
  3. Aspek syariah Asuransi Syariah
  4. Penyajian Laporan Keuangan Asuransi Syariah
  5. Akuntansi Dana Peserta 
  6. Akuntansi Dana Pengelola
  7. Analisis Rasio Laporan Keuangan Asuransi Syariah
Dari pelatihan ini diharapkan mahasiswa memahami pelaporan keuangan perusahaan Asuransi Syariah berdasarkan SAK Syariah. Selain itu juga mahasiswa dapat menjadikan laporan keuangan perusahaan Asuransi Syariah sebagai data sekunder untuk penyelesaian Skripsi.




Bagi kampus yang ingin bekerjasama dalam pelaksanaan pelatihan akuntansi syariah dapat menghubungi saya DISINI

Dokumentasi :


Foto bersama Dekan FEBI dan Kajur Asuransi Syariah UIN Banten







Jenis dan Format Laporan Keuangan Entitas Nonlaba Versi ISAK 35

GUSTANI.ID - Terhitung sejak tanggal 1 Januari 2020, penyusunan laporan keuangan Entitas Non-Laba tidak lagi mengacu pada PSAK 45: Pelaporan Keuangan Entitas Nirlaba melainkan beralih acuannya ke ISAK 35: Penyajian Laporan Keuangan Entitas Berorientasi Nonlaba. PSAK 45 secara efektif telah dicabut dan tidak dapat digunakan lagi melalui PPSAK 13: Pencabutan PSAK 45. Sebagai gantinya DSAK IAI menerbitkan ISAK 35 yang secara bersamaan berlaku efektif tanggal 1 Januari 2020. Oleh karena itu bagi lembaga yang bergerak di bidang non-profit seperti Yayasan hendaknya segera melakukan penyesuaian

BACA JUGAPencabutan PSAK 45 dan Penerapan ISAK 35 : Dampaknya Terhadap Pelaporan Keuangan Yayasan

Salah satu perbedaan mendasar ISAK 35 dengan PSAK 45 adalah jenis dan format laporan keuangan entitas nonlaba, dimana dalam PSAK 45 laporan keuangan entitas nonlaba terdiri dari 4 jenis yaitu : (1) Neraca (2) Laporan Aktivitas (3) Laporan Arus Kas, dan (5) Catatan Atas Laporan Keuangan. Sedangkan menurut ISAK 35, laporan keuangan entitas nonlaba terdiri dari 5 jenis, yaitu :

  1. Laporan Posisi Keuangan
  2. Laporan Penghasilan Komprehensif
  3. Laporan Perubahan Aset Neto
  4. Laporan Arus Kas
  5. Catatan Atas Laporan Keuangan
Berikut ini adalah format laporan keuangan entitas nonlaba versi ISAK 35 :

1. Laporan Posisi Keuangan

Laporan posisi keuangan entitas nonlaba terdiri dari 3 unsur, yaitu ASET, LIABILITAS, dan ASET NETO. Terdapat 2 (dua) format Laporan Posisi Keuangan yang disajikan sebagai contoh dalam lampiran ISAK 35. Setiap format memiliki keunggulan masing-masing. . 
  1. Format A menyajikan informasi pos penghasilan komprehensif lain secara tersendiri sebagai bagian dari aset neto tanpa pembatasan dari pemberi sumber daya. Akan tetapi, jika penghasilan komprehensif lain berasal dari aset neto dengan pembatasan, maka entitas menyajikan informasi penghasilan komprehensif lain tersebut sesuai dengan kelas aset netonya; atau


  2. Format B tidak menyajikan informasi pos penghasilan komprehensif lain secara tersendiri.



2. Laporan Penghasilan Komprehensif

ISAK 35 menggunakan istilah "Laporan Penghasilan Komprehensif" sebagai pengganti istilah "Laporan Aktivitas" dalam versi PSAK 45. Laporan Penghasilan Komprehensif menggambarkan kenaikan dan penurunan manfaat ekonomi entitas nonlaba yang berasal dari penerimaan atau pendapatan dan pengeluaran atau beban. Laporan penghasilan komprehensif dibagi kedalam dua bagian sesuai dengan klasifikasi aset neto : (1) Tanpa Pembatasan dari Pemberi Sumber Daya, dan (2) Dengan Pembatasan dari Pemberi Sumber Daya.

Ada 2 (dua) format Laporan Penghasilan Komprehensif yang disajikan sebagai contoh dalam lampiran ISAK 35. Setiap format memiliki keunggulan.
  1. Format A menyajikan informasi dalam bentuk kolom tunggal. Format A ini memudahkan penyusunan laporan secara komparatif; atau


  2. Format B menyajikan informasi sesuai dengan klasifikasi aset neto


3. Laporan Perubahan Aset Neto

Istilah Laporan Perubahan Aset Neto adalah bentuk penyesuaian dari istilah Laporan Perubahan Ekuitas pada laporan keuangan entitas bisnis. Aset Neto dalam entitas nonlaba diklasifikasikan menjadi 2 yaitu :
  1. Aset Neto Tanpa Pembatasan dari Pemberi Sumber Daya
  2. Aset Neto Dengan Pembatasan dari Pemberi Sumber Daya
Berikut ini contoh format Laporan Perubahan Aset Neto berdasarkan lampiran ISAK 35:


4. Laporan Arus Kas

Laporan Arus Kas entitas nonlaba sama dengan laporan arus kas untuk entitas bisnis, dimana arus kas dibagi kedalam tiga aktivitas yaitu Aktivitas Operasi, Aktivitas Investasi, dan Aktivitas Pendanaan. Metode penyusunan laporan arus kas dapat menggunakan dua metode, yaitu metode Langsung dan Metode Tidak Langsung. Berikut ini contoh format laporan arus kas untuk entitas nonlaba berdasarkan ISAK 35.

Format Laporan Arus Kas Entitas Nonlaba - Metode Langsung



Format Laporan Arus Kas Entitas Nonlaba - Metode Tidak Langsung


5. Catatan Atas Laporan Keuangan - CALK

Catatan Atas Laporan Keuangan menjabarkan laporan keuangan secara terperinci. Catatan A menguraikan kebijakan pengungkapan yang diwajibkan yang menyebabkan Catatan B wajib disajikan. Catatan C, D dan E menyediakan informasi yang dianjurkan untuk diungkapkan oleh entitas berorientasi nonlaba. Semua jumlah dalam jutaan rupiah. 

Catatan A

Entitas menyajikan hibah atau wakaf, berupa kas atau aset lain, sebagai sumbangan dengan pembatasan, jika hibah atau wakaf tersebut diterima dengan persyaratan pembatasan baik untuk penggunaan aset atau atas manfaat ekonomik masa depan yang diperoleh dari aset tersebut. Jika pembatasan dari pemberi sumber daya telah kedaluwarsa, yaitu pada saat masa pembatasan telah berakhir atau pembatasan penggunaan telah dipenuhi, maka aset neto dengan pembatasan digolongkan kembali menjadi aset neto tanpa pembatasan dan disajikan dalam laporan perubahan aset neto sebagai aset neto yang dibebaskan dari pembatasan.

Entitas menyajikan hibah atau wakaf, berupa tanah, bangunan dan peralatan sebagai sumbangan tanpa pembatasan, kecuali jika ada pembatasan yang secara eksplisit menyatakan tujuan pemanfaatan aset atau penggunaan manfaat ekonomik masa depan yang diperoleh dari aset tersebut dari pemberi sumber daya. Hibah atau wakaf untuk aset tetap dengan pembatasan secara eksplisit yang menyatakan tujuan pemanfaatan aset tersebut dan sumbangan berupa kas atau aset lain yang harus digunakan untuk memperoleh aset tetap disajikan sebagai sumbangan dengan pembatasan. Jika tidak ada pembatasan secara eksplisit dari pemberi sumbangan mengenai pembatasan jangka waktu penggunaan aset tetap tersebut, pembebasan pembatasan dilaporkan pada saat aset tetap tersebut dimanfaatkan.

Catatan B

Aset neto dengan pembatasan dari pemberi sumber daya yang dibatasi tujuan atau periodenya adalah sebagai berikut:



Catatan C

Aset neto yang dibebaskan dari pembatasan pemberi sumber daya karena terjadinya beban tertentu yang memenuhi tujuan pembatasan atau tercapainya periode waktu atau kejadian lain yang disyaratkan oleh pemberi sumber daya.

Catatan D

Investasi dicatat pada nilai wajar. Entitas menginvestasikan kelebihan kas di atas kebutuhan harian dalam investasi jangka pendek. Pada tanggal 31 Desember 20X2, Rp.XX diinvestasikan pada investasi lancar dan menghasilkan Rp.XX per tahun. Sebagian besar investasi jangka panjang dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok A adalah dana abadi (donor-restricted endowment) dan tidak diwajibkan untuk menaikkan nilai bersihnya. Kelompok B adalah jumlah yang oleh badan perwalian ditujukan untuk investasi jangka panjang. Tabel berikut ini menunjukkan investasi jangka panjang entitas.


Undang-undang dan peraturan memungkinkan pemerintah untuk menyesuaikan begitu banyak dana abadi (endowment fund) seperti dengan mempertimbangkan faktor-faktor relevan berikut: durasi dan pemeliharaan dana abadi, tujuan dari entitas berorientasi nonlaba dan dana abadi, kondisi ekonomik secara umum, kemungkinan dampak inflasi atau deflasi, total imbalan yang diperkirakan berasal dari penghasilan dan penyesuaian investasi, sumber daya lain entitas berorientasi nonlaba dan kebijakan investasi. Berdasarkan kebijakan pengeluaran dana abadi, Y% dari rata-rata nilai wajar pada akhir 3 tahun sebelumnya disesuaikan, yaitu Rp.XX untuk tahun yang berakhir 31 Des 20X2.

Catatan E

Beban yang terjadi adalah:


Semoga bermanfaat !

Sumber : ISAK 35: Penyajian Laporan Keuangan Entitas Berorientasi Nonlaba (2019) - IAI


DISKUSI SEPUTAR PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN UNTUK LEMBAGA NONLABA SEPERTI YAYASAN DAPAT MENGHUBUNGI SAYA DI SINI


PRODUK & JASA

KOLOM SYARIAH

KEISLAMAN

IKUTI PELATIHAN AKUNTANSI KOPERASI SYARIAH

AKTIVITAS PELATIHAN

AKUNTANSI SYARIAH

SEPUTAR AKUNTANSI

SERBA SERBI